Si Buah Hati | Lisya Weblog

You are here:
Home » Uncategorized » Si Buah Hati

Si Buah Hati

 

Kisah Pendek si Buah Hati
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengizinkan janin kecil ini berkembang di dalam rahimku selama lebih dari 40 minggu. Hanya kepadanyalah ku haturkan triliyunan rasa syukur yang tidak terhingga. Milyaran pujian dan doa-doa, karena aku sada tidak ada tempat bergantung yang paling teat selain Dia.
Farzan Feroz Syah Dermawan, itulah nama yang kai berikan kepada bayi laki-laki yang lahir dengan berat 3,5 kg dan panjang 51 cm, pada Kamis, 8 September 2011. Nama bayi mungil ini diambil dari Bahasa Persia, (aku memang sangat mengagumi Dinasti Mogul ini, karena selain mereka memiliki peradaban yang sangat maju pada zamannya, saat ini pun, bangsa Persia masih dihormati oleh bangsa lain di dunia), bukan karena nenek moyang mreka yang telah menorehkan sejarah peradaban dunia, namun karena mental dan karakter yang kuat.
Buat pasangan lain, memiliki anak merupakan hal yang luar biasa. Tapi bagi kami, lahirnya Farzan adalah keajaiban. Kami, aku dan suami, menikah 6 tahun lalu, tepatnya 8 Januari 2005. Kami adalah pasangan yang berbahagia, telah saling mengenal sejak usia taman kanak-kanak. Banyak yang heran jika aku cerita bagaimana awal aku dan suami bertemu. Tapi aku percaya, jodoh, rejeki dan maut sudah diatur oleh Allah. SD, SMP kami satu sekolah. Saat SMU kami sekolah di tempat yang berbeda, aku sekolah di SMU 14 Cililtan, suamiku, Imam di SMU 39 Cijantung. Sejak TK aku sekolah di Cijantung – Kopasus terus, aku bosan dengan suasananya, dan emutuskan pindahh rayon. Saat kelas 1 SMU, aku sakit typhus dan demam berdarah yang menyebabkan aku harus transfusi sel darah putih, dan berbaring cukup lama di rumah sakit. Aku ketinggalan pelajaran, padahal sekolahku cukup dikenal sebagai sekolah unggulan. Aku tidak peduli lagi masalah prestasi, yang penting sehat dulu. Di saat itu, tiba-tiba Imam mengunjungiku di rumah, dan membantu menyelesaikan tugas-tugas sekolahku. Imam adalah juara umum di sekolahnya. Waktu SMP dia juga kerap membantuku untuk urusan pelajaran. Dan dia memang baik sekali, bukan hanya padaku tapi pada semua teman.
Saat kami kuliah, kami kehilangan kontak. Sekalinya bertemu, di terminal kampung rambutan. Aku mau kembali ke kosan di Jatinangor, Imam mau pulang ke rumahnya di Bandung, Ternyata dia dan keluarga pindah rumah ke kampung halaman ibunya di Bandung. Imam dapat PMDK di IPB jurusan matematika. Aku lolos UMPTN diterima di FIKOM UNPAD.
Lulus kuliah, kai bertemu lagi di dunia maya setelah kami sama-sama bekerja. Setahu aku, Imam belum pernah punya pacar sebelumnya, hidupnya yang cukup prihatin dan bejibunnya tugas-tugas kuliah membuat Imam fokus menyelesaikan kuliah tepat waktu. Saat lulus, IP nya tergolong kecil, namun menurutnya untuk dapat IP 2,7 saja di jurusannya sangat sulit. Tapi kualitas boleh diadu, makanya dia gak pernah lolos saringan administrasi pegawai negeri, karena Ipnya tidak memenuhi syarat. Aku juga lulus tepat waktu dengan predikat cum laude. Aku bukan anak yang terlalu rajin belajar, prinsipnya kehidupan harus seimbang, belajar, bekerja dan senang-senang. Aku sangat menikmati masa-masa kuliah, tidak ada beban. Mungkin inilah yang membuat prestasi akademisku cukup gemilang. Semester 5 aku sudah bekerja paruh waktu di Harian Galamedia, jualan baju dari pasar baru, dan sebagainya.
Setelah lulus, aku bekerja seagai penulis skenario, juga freelancer administrator web site sebuah televisi satelit, Ar rahman Channel. Karirku di Ar rahman channel cukup lumayan (Menurut aku loh..), karena berkat bekerja di sana, aku mendapat kesempatan umroh 1 kali dan umroh Ramadhan selama 1 bulan. Sebuah berkah yang luar biasa. Di saat yang bersamaan aku juga harus menyelesaikan kuliah S2 ku di Universitas indonesia dan dilamar Imam. Kami menikah, usai aku menyelesaikan tugas di Saudi Arabia pada januari 2005. Saat itu ayahku dalam keadaan vonis kanker stadium 4. Namun ayah memaksakan untuk memestakan pernikahanku dengan Imam. Ayah ikut mengatur segalanya, ayah ingin pernikahan ala Betawi, karena adat betawi menurutnya kental dengan nuansa Islami. “Pengantin disambut dengan adzan. Adat Betawi juga asik dilihat karena ada palang pintu. Pengantin laki-laki harus beradu silat sebelum meminang sang gadis. Ini artinya, harus ada perjuangan,“ kata ayah. Dan benar saja, pernikahan kami dihadiri sekitar 2000 undangan dan terlaksana di Balai Komando – Cijantung.
Hari pertama menikah, kami langsung pindah ke kontrakan, tidak ada bulan madu, karena memang tidak ada budget, aku lebih memilih DP rumah ketimbang bulan madu. Angpaw nikahan tidak kami ambil sepeserpun, karena sebagian besar adalah dana dari orang tuaku. Kami bertahan hidup dari sisa tabungan dan gaji. Sebulan setelah menikah, Ar Rahman bangkrut, dan tidak ada pesangon. Aku tidak bekerja dan melamar ke sana ke sini. Ayahku masuk rumah sakit. Kujadikan ini sebagai waktu untuk merawat ayah.
Tepat 6 bulan setelah pernikahanku, ayah meninggal. Ini menjadi pukulan yang berat bagiku, karena hubungan kami (anak-anaknya) dengan beliau sangat dekat. Ayah adalah teman curhatku sejak SMP. The best Dad in the entire world! Aku ikhlas ayah harus pergi, kami semua ikhlas. Ayah adalah imam di keluarga besar kami. Hilangnya ayah, membuat keluarga besar (dari ibunya ayah) limbung. Hubungan dengan ibuku pun jadi hambar dan nyaris putus. Terlalu banyak fitnah yang membuat keluarga kami dijauhi. Dua pernikahan adik-adikku tidak dihadiri satupun dari keluarga ayah. Tapi tidak mengapa, itu bukan masalah. Kami hanya tau silaturahim memperpanjang usia dan rejeki. Mama tidak pernah putus mengunjungi nenek sekali setiap tahun jika Ramadhan datang, walau tidak pernah diusir secara langsung.
Agustus 2005, aku diterima bekerja di sebuah lembaga SDM ternama sebagai reporter. Dari pekerjaan ini, aku mendapat kesempatan untuk keliling Indonesia. Alhamdulillah dari sumatera hingga Irian jaya sudah kujelajahi. Suamiku juga pindah kerja, dan kondisi ekonomi kami jadi lebih baik. Untuk memperoleh keturunan, tahun 2007, aku memutuskan kerja freelance dan berhenti jadi reporter. Aku mulai menulis skenario untuk FTV/sinetron anak bahkan freelancer jadi tim sukses kampanye.
Tahun 2010, aku belum hamil juga, sementara dua adikku yang telah menikah sudah dikaruniai anak. Adik perempuanku malah sudah mau dua anaknya, di usia pernikahannya yang ke-4. Aku sudah pasrah. Sudah berusaha dari mulai urut ke Cibinong sampai ke Purwokerto. Berobat alternatif dan dokter. Sudah hapir 7 dokter yang aku dan suami datangi. Hanya ada sedikit titik terang. Tahun 2007, kami datang ke Klinik Yasmin di RSCM, dan bertemu dengan dr.Muharam. Oleh beliau aku dirujuk ke RS Sayyidah di Pondok. Kopi untuk cek ASA (Antibodi). Setelah pemeriksaan darah sana-sini, tentu menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Akhirnya barulah nampak masalah kami. Antibodiku terlalu tinggi yang menyebabkan aku menolak sperma suami. Suamiku juga ada masalah, varikokel dan harus dioperasi. Untungnya kantor suami memberikan penggantian uang kesehatan, sebesar gaji suami. Untuk sisanya, alhamdulillah ada saja rejeki yang mampir ke keluarga kami.
Namun semua pengobatan ini belum membuahkan hasil. Aku belum pernah merasakan positif sekalipun. Kami bukannya tidak sabar untuk berusaha, hanya saja, semua usaha harus sesuai dengan kemampuan. Aku tidak mau pinjam uang sana-sini. Aku yakin Allah sudah mengatur segalanya. Akupun mulai menjalani pemeriksaan intensif di Sayyidah pada tahun 2009. Hasilnya, dari 33 test respon terhadap alergi, 32 test menunjukan aku alergi berat, terutama pada kepiting, sea food, tomat, acang kedelai, ayam, keju, susu, terigu dan gandum, dll. Akhirnya aku harus diet ketat. Mei 2010, aku positif hamil. Senangnya bukan main. Suamiku jadi protektif luar biasa. Tapi janin ini tidak bertahan lama, tepat setelah merayakan ulang tahun ke-31, aku keguguran dalam perjalanan menuju rumah sakit. Blighted Ovum, atau janin tidak berkembang disebabkan karena proses pembuahan yang tidak sempurna (baik sel ovum maupun sperma bukan yang berkualitas baik) akhirnya janin meluruh sendiri, tapi aku tetap harus dikuret.
Sedih? Tentu saja, terus terang semangatku untuk memiliki keturunan jadi melorot. Sudah puluhan juta yang kami keluarkan, hingga kami tidak punya tabungan sama sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk stop berobat. Dan bekerja sekerasnya, untuk mengalihkan pikiranku. Bahkan aku berencana menabung untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Lalu mama menyarankan untuk menabung haji. Sebetulnya aku sudah lama kepikiran untuk membuat tabungan haji. Alhamdulillah, rumah kami cicilannya sudah lunas dan sudah SHM. Aku pikir, sudah saatnya membuat tabungan haji karena beban cicilan rumah sudah dialihkan. Akhirnya, datanglah rejeki dari hasil menulis skenario dan pembagian warisan tanah. Aku dan suami membuat tabungan haji di tahun 2010, setelah aku dikuret. Kami langsung mendaftar ke Departemen Agama dan mendapat nomor antrian untuk tahun 2014 (doakan yah…)
Karirku sebagai dosen juga semakin baik bersamaan pekerjaan sampingan sebagai penulis skenario dan astrada. SK dosenku sudah keluar dari kopertis awal 2011. Kegiatan kampus dan shooting berjalan dengan mesra. Hingga pada suatu saat, dimana kesibukanku sedang memuncak, Januari 2011, aku kembali positif hamil. Aku harus menangani kegiatan kampus yang cukup besar, acara tahunan dengan masa sekitar 1000 orang. Malamnya shooting hingga pagi. Dan aku dalam kondisi hamil.
Pikiranku mulai negatif. Akhirnya mengikuti saran dari suami, aku harus menghentikan aktivitasku sebagai astrada. Setiap berada di kamar mandi aku muntah hebat. Anehnya, kalau sedang mengajar dan aktivitas lain, sehat wal afiat. Tapi aku bersyukur, aku selalu berkomunikasi dengan janinku, untuk bekerjasama. Aku berharap, saat lahir ke dunia, anakku menjadi orang yang suka bekerja keras dan tidak mudah menyerah.
Usia kehamilan 5 bulan, kondisiku sudah lebih baik, Production House tempat aku bekerja, kembali memanggilku. Kali ini untuk mengerjakan project layar lebar. Aku terlibat dalam penulisan skenario dan penjadwalan. Dan tentu saja, disambi dengan pekerjaan sebagai dosen. Paginya mengajar, malamnya di PH. Ini berlangsung selama 4 bulan. Untungnya, saat shooting berlangsung, kampus sedang UAS. Jadi aku tidak perlu grabag-grubug membagi waktu. Perutku semakin membesar, dan tiap bulan kami rutin check up ke dokter. Alhamdulillah kondisi janin sehat dan normal.
Shooting layar lebar selesai seminggu sebelum lebaran 2011, namun ada masalah di Phku, salah satu kru telah lalai menjalankan tugasnya, sementara kru lain sudah mudik. Alhasil aku dan produser harus kembali bekerja hingga 3 hari sebelum lebaran. Untung suami dengan sabar menemaniku. Sebagian pekerjaan beres.
Setelah lebaran selesai, aku dag dig dug menunggu masa persalinan. Melihat kondisi janin yang sehat, tidak membuatku khawatir, namun plasentaku sudah tidak bagus, sudah tua. Dan ini akan menganggu janin. Jika dibiarkan, janin bisa tidak makan. Maka atas pertimbangan ini, tanggal 6 September 2011, aku harus ke RS dan minum obat pelentur rahim.Setelah meminum obat, aku flek, namun tidak ada mules. Tanggal 8 Sept, aku dan suami pergi lagi ke RS. Dicek sudah ada pembukaan 2, aku disuruuh banyak jalan agar semakin melebar. Setelah menunggu selama 8 jam, pembukaan masih tetap 2. Dokter lalu memtuskan untuk memberikan Cytotec (silahkan cek di internet resiko yang harus ditanggung ibu hamil dalam penggunaan obat keras ini) dengan dosis yang sangat kecil, untuk membantu mulut rahimku terbuka. Kebetulan mama adalah seorang bidan, dan tidak sengaja mendengar pembicaraan perawat rumah sakit dengan dokter mengenai obat ini. Mama langsung tidak setuju.
Rencananya, setelah diberi Cytotec, aku baru diinduksi. Karena induksi (via infus) baru boleh dilakukan setelah minimal pembukaan 4. Menurut mama, rasa sakit yang harus ditanggung dari penggunaan Cytotec dan induksi sangat luar biasa. Itu juga kemungkinan berhasilnya 50:50. Jika gagal, aku harus operasi. Mama menyarankan lebih baik langsung operasi. Aku dan suami lalu berpikir keras. Suami langsung browsing di internet. Dan akhirnya, kami memutusan untuk operasi. Suamiku langsung menandatangi surat pernyataan. Aku lalu masuk ruang operasi.
Pengalaman berada di meja operasi sangat tidak nyaman. Tapi disitulah aku menyadari, bahwa sesungguhnya aku sangat takut mati. Aku takut meninggalkan dunia, dan aku sangat berterima kasih pada mama. Aku langsung ingin memeluk mama dan mengucapkan dengan lantang kata maaf sekaligus terima kasih atas apa yang sudah mama berikan kepadaku. Melahirkan bukanlah hal sepele. Ini pertarungan nyawa. Dan saat itu yang membuat aku belum rela pindah dunia adalah karena aku ingin merawat bayi yang aku lahirkan. Melihatnya tumbuh, dan memberikan segala cinta kasihku padanya. Sekali lagi, aku ingin memeluk mama dan mencium kakinya. Lalu mama masuk ke ruang operasi dan memegang tanganku. Saat itulah, walau dalam kondisi bius lokal, aku bisa membalas genggaman mama. Dan aku langsung menangis ketika Farzan, bayi laki-laki kami menangis untuk pertama kali. Tangisnnya begitu keras, menggelegar seperti sambaran petir. Menangislah nak, kami sudah menantikannya lama sekali. Mama lalu mengusap air mataku. “Bayi kamu besar sekali Ka, 3,5 kg.” katanya dengan wajah haru. Sebelumnya dokter memperkirakan BB bayiku 2,7 kg. Farzan lalu diletakkan di dadaku dan langsung diperkenalkan untuk menghisap ASI. Aku masih bisa melihat cairan kecokelatan keluar dari mulutnya dan menempel di dadaku. Subhanallah, bayi sehat yang montok. Aku maih tidak percaya, bayi ini benar-benar ada di dalam rahimku.
Hari ini, tepat hari ke-8 Farzan Feroz Syah Dermawan hadir ke dunia, sejak pertama kali muncul, pada 8 September 2011. Suasana rumah kami kini sudah lain sejak tangisannya menghiasi hari-hari kami. Mulai tidak tidur, mulai ada kesibukan baru. Farzan minumnya kuat sekali, aku ingin sekali memberinya ASI eksklusif, namun air susuku baru bisa keluar agak banyak satu minggu setelah Farzan lahir. Tapi aku tidak menyerah, aku bertekad akan terus memberinya ASI, pokoknya harus ASI, mudah-mudahan susu formulanya akan segera tergeser.
Malam ini, pada hujan pertama setelah lebaran 1432 H, hujan pertama Farzan. Hanya aku dan dia, karena suamiku sedang menengok rumah kami di Cileungsi, dan saat ini sampai aku pulih aku berada di rumah mama. Aku ingin berbagi dengan teman-teman sekalian. Bebagi kebahagiaan yang belum pernah kurasakan, hingga perasaan ini menghanyutkan air mata. Kisah baru menjalani kehidupan menjadi orang tua, bertanggungjawab kepada Allah hingga nanti kita semua kembali padaNya. Aku berdoa, bagi pasagan yang belum dititipkan Allah buah hati, akan segera dikaruniai kebahagiaan ini. Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi hamba yang amanah. Amiin.

Lisya dan Imam

Posted by 9 Responses
     
 

Leave a Reply to this Post

Nov
28
2011
 
 
Lisya Weblog Search form
Recent Comments
  • Nurhablisyah: Materi slide ada, hanya untuk melindungi kepentingan saya sebagai penyusun materi, maka saya...
  • Ringgo: Apakah ada materi dalam bentuk slide bu? Murid lebih menyukai pelajaran dengan slide sepertinya. Terima...
  • Senter Police: Oke makasih bu Dosen :D
  • Pusat Variasi Motor: saya senang atas artikel anda ini sangat membantu saya akan kembali untuk lain waktu agar dapat...
  • Variasi Motor: makasih ya mbk