Orang Indonesia Gak Boleh Pintar | Lisya Weblog

You are here:
Home » Uncategorized » Orang Indonesia Gak Boleh Pintar

Orang Indonesia Gak Boleh Pintar

 

Kalau Anda termasuk orang yang hobi belajar dan sekolah, dan berniat untuk memberikan manfaat untuk negeri ini. Sebaiknya persiapkan diri Anda dengan mental baja dan penghasilan sampingan. Mengapa? Begini..
1. Untuk jadi dosen di Indonesia, dan mendapatkan NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional) setidaknya Anda harus mengantongi ijazah S2 atau S3 (http://www.kopertis12.or.id/2010/08/02/kumpulan-info-penting-untuk-dosen.html).
2. Menjadi dosen artinya, Anda harus mematuhi tugas dan kewajiba tri dharma perguruan tinggi, yaitu bidang pendidikan, pengabdian masyarakat dan penelitian. 9http://sindiker.dikti.go.id/dok/PP/PP4-2014%20tentang%20pengelolaan%20pendidikan%20tinggi.pdf)
3. Jika Anda sudah memenuhi itu semua, dan dapat mengikuti sertifikasi dosen nasional (serdos), maka kewajiban Tri dharma perguruan tinggi itu, lebih mengikat. Setiap semester, Anda harus mengisi BKD (Beban Kinerja Dosen) yang harus dikumpulkan setiap semester. Di dalamnya berisi catatan kerja Anda selama satu semester sebagai dosen. Harus ada laporan pengabdian masyarakat yang sesuai dengan bidang/program studi Anda, penelitian atau publikasi ilmiah, mengajar serta kegiatan penunjang lainnya, misalnya sebagai dosen pembimbing akademik, ikut seerta dalam seminar nasional atau internasional, membimbing skripsi/TA dan lain-lain.
4. Untuk mengerjakan semua tugas dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa itu, berapakah gaji dosen? Gaji dosen sangat variatif, tergantung kemampuan universitas atau perguruan tinggi. Ada yang sistemnya per SKS, range-nya juga macam-macam, dimulai dari Rp 17.000,- per sks hingga di atas Rp 1.000.000,-. Tapi kalau Anda sudah mendapatkan serdos, Anda akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah sesuai dengan jabatan fungsional Anda, kisarannya sekitar Rp 2.000.000,-/ bulan. Tapi gak mau ngomongin gaji ah, sebagai pendidk tujuan utamanya adalah mencerahkan. Perkara, anak di rumah sakit, kontrakan belum bayar, atau orang tua belum makan, cari sendiri solusinya. Bahkan ada loh, dosen nyambi jadi tukang ojek. Dosen juga pahlawan tanda jasa kan?
5. Bagaimana dengan hibah penelitian dan bea siswa dari pemerintah (Dikti), pemerintah memang menyediakan dana untuk penelitian, abdimas dan bea sswa. Tapi silakan ditanya kepada orang-orang yang sudah merasakan dana tersebut. Seorang teman yang tahun ini mendapatkan dana hibah bersaing untuk penelitian baru saja mengeluh. Laporan akhir penelitian sudah diserahkan, namun sisa pembayaran ( 30% atau setara dengan Rp 19 juta rupiah) belum kunjung turun. Padahal sudah mau pergantian tahun. Akhirnya, mereka cari pinjaman sana sini untuk menutupi kekurangan penelitian. Untuk dapat hibah penelitian, juga bukan hal mudah, harus ada proposal yang diuji kelayakannya oleh Universitas dan kopertis. Bahkan ada aturan, kalau sudah mendapatkan serdos dan lolos hibah penelitian, maka honor peneliti tidak dibayar, karena kan sudah dapat uang serdos. Saking frustasinya, dengan kebijakan pemerintah, seorang peneliti Indonesia yang kini mengajar di luar negeri, Prof. Mia Lauderr, mengatakan dalam sebuah seminar JUni 2015 di ITB, “Di Indonesia, penelitian Bahasa tidak akan disetujui, apalagi kalau harus kunjungan ke daerha terpencil selama berbulan-bulan.” Akhirnya, banyak peneliti asing yang menjadikan Indonesia sebagai objek penelitian, terutama dari Belanda dan Perancis. Di Indonesia, bahasa suku-suku terpencil sudah mulai punah, dan kita gak punya dokumentasi (kamus) mengenai keberadaan bahasa tersebut. Justru, bank bahasa suku-suku di Indonesia, menumpuk jadi kekayaaan intelektual di luar negeri. Lagian, mau meneliti bahasa harus 4 hari, meneliti apaan? Etnolinguistik adalah proses sosial yang rumit, gak bisa didapat hasilnya hanya dalam hitungan hari, hadeh..
6. Universitas yang notabene adalah pencetak generasi Guru…hehehe, ini dia gong dari tulisan ini. Mencetak guru juga di perguruan tinggi loh. Mulai dari guru PAUD, TK, SD, SMP, SMA bahkan sampai dosen harus mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Bisa ngebayang gak kalo, para sumber daya dosen tidak mumpuni. Mumpuni tidak hanya dari segi kognisi, melainkan juga spiritual dan emosional. Dosen yang memiliki banyak masalah dalam kehidupan pribadi, apakah bisa mentrasfer ilmu kepada mahasiwa dengan lancar? Inget gak kasus penelantaran anak di Cibubur, pelakunya adalah seorang dosen. Bisa jadi, dari tekanan psikologis yang dialami baik dalam pergaulan dan pekerjaan, para dosen tidak bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal Hasilnya? Ya sudah bisa diduga. Walaupun, kegagalan dalam mengajar juga dipengaruhi banyak faktor, misalnya kondisi fisik dan mental anak didik, materi penyampaian, ruangan, dan sebagainya. Jadi engga heran, di saat Ulang tahun PGRI, Desember 2015 kemaren, Mas bayu Pratama menulis bahwa ia sangat prihatin terhadap kondisi Gelora Bung Karno yang dipenuhi sampah (jetjetsemut.blogspot.com/2015/)

smph
Sumber: (jetjetsemut.blogspot.com/2015/)

Belum lagi, kalau kita membicarakan kualitas sopan santun anak didik di sekolah. Seorang guru asal DKI Jakarta, yang sudah jadi PNS, mengatakan kalau penghasilannya per bulan bisa mencapai Rp 7 juta. Penghasilan itu, cukuplah untuk mencicil mobil. Emang kalau guru bisa beli mobil masalah?
Ya engga lah. Guru juga berhak punya tabungan, dan memiliki derajat hidup yang baik. Hanya jangan dilupakan, kewajiban utamanya dalam bidang pendidikan. Para orang tua menitipkan anak mereka. Kalau dititipkan buku sama kepala sekolah pasti dijaga dengan baik ya, dititipkan anak harusnya juga demikian. Termasuk menjaga perilaku di depan anak didiknya. Lah, kalo foto di atas gimana?

Kalau menurut saya nih, gak ada sesuatu yang muncul secara ujug-ujug. Semua ada prosesnya da nada urutannya. Kenapa bisa begini, kenapa jadi begitu, kenapa kejahatan di kalangan remaja (siswa) makin banyak dan makin mengerikan, kenapa pornografi marak, kenapa narkoba makin meraja lela. Karena kita dicetak untuk jadi matrealistis (sesuai judul tulisan saya, orang Indonesia gak boleh pintar)

Gaji guru dan Tunjangan dosen naik, tapi secara sosial, kewibawaan mereka menurun. Siswa menjadi seenaknya memandang guru/dosen. Persepsi Masyarakat juga tidak seperti dulu, yang memandang guru sebagai profesi yang mulia. Kenapa? Balik lagi, dikondisikan. Reward secara materi sesuai kebutuhan namun ada pula reward social. Misalnya, setiap guru, diprioritasnya berobat VIP di rumah sakit. Kalau keluarga guru (anaknya) mau ujian di perguruan tinggi negeri diprioritaskan, bisa juga dengan pemberian beasiswa bagi anak guru. Guru-guru yang berprestasi (tidak Cuma secara akademik tetapi bermanfaat dalam sosial) juga dipublikasikan. Dan yang paling penting, metode pendidikan harus disesuaikan dengan fitrah manusia. Manusia pada dasarnya senang belajar, mengapa engga dibuat belajar mnejadi hal yang menyenangkan. Pendidikan anak usia dini yang menekankan pada pembentukan karakter positif seperti nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggungjawab, peduli, berorientasi pada masa depan, santun, lemah lembut dan sebagainya.

Nulis emang gampang daripada menjalankan ya… godaan memiliki laptop baru, rumah yang lebih besar, anak sekolah di sekolah bonafid memang lebih kuat. Tapi gak ada hal yang mungkin, selama kita konsisten menjalaninya. Jika kita berjalan menuju Allah maka Allah akan berlari menuju kita. Semangat terus ya untuk para dosen dan guru, mari kita jadikan pena, lisan dan perilaku kita sebagai penyelamat di dunia dan akhirat.

Posted by 0 Responses
     

Leave a Reply to this Post

Dec
19
2015
 
 
Lisya Weblog Search form
Recent Comments
  • Nurhablisyah: Materi slide ada, hanya untuk melindungi kepentingan saya sebagai penyusun materi, maka saya...
  • Ringgo: Apakah ada materi dalam bentuk slide bu? Murid lebih menyukai pelajaran dengan slide sepertinya. Terima...
  • Senter Police: Oke makasih bu Dosen :D
  • Pusat Variasi Motor: saya senang atas artikel anda ini sangat membantu saya akan kembali untuk lain waktu agar dapat...
  • Variasi Motor: makasih ya mbk