Mengapa Saya Getol Belajar Parenting | Lisya Weblog

You are here:
Home » Uncategorized » Mengapa Saya Getol Belajar Parenting

Mengapa Saya Getol Belajar Parenting

 

Sebelumnya, izinkan Saya minta maaf sebesar-besarnya. Tulisan ini buka karena saya sok pintar dan ingin membuka aib keluarga sendiri. Justru Saya ingin, teman-teman yang lain belajar dari keadaan yang Saya alami

Suatu ketika Saya sedang berada bersama ibu-ibu arisan. Saya ibu dengan satu anak (anak saya usia 3,6 th) dan sedang menjadi freelancer di sebuah sekolah yang menjalankan Metode Sentra dalam pengajarannya. Saya sangat tertarik dengan Metode Sentra. Menurut saya, Metode ini sangat baik. Anak diperlakukan sesuai fitrahnya dan tidak disamaratakan. Perlakuan terhadap anak, disesuaikan dengan tahap perkembangannya. Jadi Saya getol mempromosikan metode ini maupun kegiatan seminar yang berhubungan dengan hal ini. Namun, beberapa teman justru menganggap mendidik anak dengan lembut berbagai teori adalah “repot”. “Udah tau sih gak boleh marah-marah sama anak, tapi anak Saya kalau gak diteriaki gak denger! Giliran Saya bicara pelan, anak Saya malah bingung. Ibu kenapa Bu? Hahahaha” perkataan ini juga diikuti gelak tawa ibu-ibu yang lain. Mungkin frekwensi humor Saya dan teman Saya tidak begitu nyambung, jadi Saya tidak merasa lucu.

Lain lagi ketika Saya cerita dengan antusias bagaimana kecerdasan jamak bisa membuat anak di masa depan menjadi lebih “survive” kepada tante Saya. Tante Saya adalah seorang bidan dan menjadi ketua IBI di wilayah jawa Tengah. “Halah! Mau ngurusin anak aja kok repot! Banyak urusannya! Kalau anak gak dimarahin gimana bisa belajar disiplin?”

Saya memang masih marah sama anak Saya, Saya sendiri masih belum bisa menjadi orang tua yang lembut. Maka, Saya berusaha bertemu orang-orang yang senantiasa mengingatkan Saya. Saya pernah menjadi anak, dan ketika saya masih kanak-kanak, banyangan yang saya ingat pada ibu Saya adalah ibu yang suka marah-marah. Saya tidak mau ini terjadi pada anak Saya, Saya ingin, dalam bayangannya Saya adalah Ibu yang menyenangkan.

Teman, bagi Anda yang sudah memiliki anak. Pernahkah Anda membayangkan bagaimana kehidupan anak Anda dan Anda 10 tahun mendatang? Apakah dalam bayangan Anda hidup Anda akan menjadi lebih mudah? Anak-anak kuliah di tempat yang baik, setelah itu gampang mencari kerja. Dan menikah lalu hidup bahagia bak cerita di dalam dongeng?
Jika begitu, maka itulah bayangan yang terjadi pada ibu saya.
Susah payah beliau bersama ayah saya bekerja membesarkan 5 anak. Semuanya kuliah dan meraih gelar sarjana. Namun, kehidupan siapa yang menyangka? Tidak selalu indah dan sesuai bayangan.

Di masa mudanya, Ibu Saya adalah wanita yang tangguh. Ia bisa menjadi ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah. Ayah Saya juga bekerja, namun penghasilan ibu jauh di atas ayah. Namun ibu tetap santun pada ayah dan sampai ayah meninggal, ibu selalu setia di sampingnya. Namun fisik perempuan memang tidak diciptakan sebagai tulang punggung. Jika ia bekerja terlalu keras bagi keluarga, percayalah ada hal yang tidak dapat ia gantikan. Mugkin itulah yang saya rasakan. Ibu saya yang lelah tidak memiliki banyak waktu untuk bicara bersama anak-anaknya. Ketika pekerjaan terlalu menyita perhatiannya, ibu berubah menjadi pemarah. Kata-kata kasar sering terucap dari mulutnya. Saya tidak perlu tulisakan sekasar apa. Anak tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya, semuanya harus mengikuti kemauan ibu. Pergi ke ulang tahun teman saja, ibu yang sudah menentukan baju. Saat Saya memilih baju kesukaan Saya, ibu bilang itu norak dan kampungan!

Di masa remaja,untuk urusan menstruasi, saya dapat informasi dari teman dan tante. Untuk bisa memakai pembalut, Saya diberi tahu teman. Padahal ibu Saya orang kesehatan. Termasuk bagaimana cara membersihkan dan mandi hadas setelah menstruasi, bukan dari ibu, tetapi dari ustad di pengajian. Saat remaja, saya pertama kali dapat surat cinta dari seseorang. Saya tidak paham maksudnya apa sih kalau dapat surat. Saya malah gemeteran, takut kalau ibu saya membaca surat ini dan menganggap saya sudah punya kekasih. Pasti habis Saya dimarahi dan dikurung. Pernah suatu ketika, sehabis menghadiri ulang tahun teman, saya dan teman-teman sampai di rumah magrib. Saya lihat di depan rumah sudah ada batang kayu Pohon Jambu (cukup besar dan tebal). Untung Ayah dan Ibu sedang sholat Magrib, kalau tidak Saya asti dipermalukan di depan teman-teman. Saat masuk kamar, kamar saya berantakan, porak poranda, seperti terjadi badai. Ibu mengobrak abrik kamar saya dengan alasan mencari kunci. Sehabis itu, Saya menangis semalaman. Dan kadang Saya berpikir kalau saya bukan anak kandungnya.

Untunglah ayah selalu menjadi jembatan antara ibu dan Saya. Buat Saya, ayah adalah orang yang mengajarkan Saya bagaimana bicara. Bagaimana tatapan mata, intonasi bisa menggerakkan orang, menggetarkan hati dan membuat orang tertarik pada pembahasan kita. Menurut Saya, ayah cukup jago presentasi. Padahal ia adalah anak adopsi. Ayah Saya juga sangat dengan ayahnya (Orang Batak). Bolang, panggilan Saya pada kakek dari ayah. Sangat menyayangi ayah Saya dengan tulus (padahal bukan anak kandung). Ayah saya selalu cerita bagaimana kenangannya bersama bolang adalah kenangan yang indah. Bolang selalu memanggil ayah saya dnegan kata-kata yang indah. “Duhai anakku, Duhai permata jiwaku, Kemarilah intan-berlian, Apa yang Kau butuhkan raja-Baghdad?” lalu kata-kata manis itu pula yang diturunkan kepada Kami melalui ayahku. Ayah selalu memanggilku dengan sebutan “Kakakku, sayangku,” ayah juga memanggil adik-adikku dengan kata-kata yang manis.

Setelah dewasa, aku merasakan, bagaimana insting merawat yang ada di dalam otak dan genku bisa hilang dan berubah jadi pemburu bengis ketika aku sedang lapar, tertekan oleh pekerjaan dan perasaan tidak enak lainnya. Ucapanku lebih tajam dari pisau dan menyebalkan ketika mau datang bulan. Dalam menghadapi anak, keletihan dan tekanan juga memicuku untuk tidak mengontrol suara ketika marah. Aku tidak suka seperti ini, maka aku mencari teman-teman yang bisa mengingatkan..

Lalu bagaimana dengan ibuku?
Usianya kini hampir 60 tahun. Kemarin kami bicara bersama. Aku bertanya, apakah ibu lebih bahagia saat anak-anak semua sudah menikah atau saat kami masih kecil. Ibu menunduk, dan hampir menangis. Ia menjawab, “saat kalian masih kecil.” Ia merasa sendirian. Anak-anak jarang menelponnya, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Belum lagi, ada adikku yang punya masalah rumah tangga.Ia kerap dipusingkan dengan masalah anak-anaknya. Hubungan antara anak juga tidak terlalu harmonis. Ibu juga tertanggu dengan adik laki-laki ku yang ketus. Tidak memahami perasaannya.

Aku lalu berkata dengan pelan. Ketika anak laki-laki cuek, bukan berarti ia tidak mau membantu, jangan-jangan ia tidak tahu harus bagaimana membantu. Kita para perempuan berharap pria selalu memahami perasaan kita. Pertanyaannya, adalah, apakah di masa kecil mereka diajari diajari untuk memahami perasaan perempuan? Diajari untuk bertanya? Diajari untuk mengatakan terima kasih? Diajari untuk meminta maaf yang benar? diajari bagaimana caranya mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang benar Oleh orang tua, jadi seandainya nanti sudah berkeluarga, istri sakit, suami bisa mengatasinya?

Banyak teman saya (para istri) yang mengeluhkan sikap suaminya. Suaminya selalu menuruti kemauan anak, suami tidak pernah bertanya apa istrinya sudah makan, suami bahkan tidak menanyakan perkembangan kondisi anaknya yang sakit, suaminya tidak sayang pada keluarga istrinya, dan sebagainya. Tapi sebagai istri, usaha apa yang pernah kita perbuat? Diajak ngomong gak nyambung…ujar teman saya. Lalu yang perlu digali mungkin, bagaimana teknik bicaranya? Sudah belajar kah? Dan apakah sebagai istri, kita juga sudah memahami peran kita?

Teman, sekali lagi mohon maaf, bukan bermaksud menggurui atau sok pinter..justru Saya mau mengajak mari kita sudahi generasi yang seperti ini. Mari belajar bersama. Mendidik anak harus disertai ilmu, berkeluarga harus ada ilmunya, karena di dalam keluarga akan lahir generasi, dan generasi ini yang akan meneruskan perjuangan kita. Sebagai seorang muslim, Saya diajarkan untuk menjadi orang yang kuat (iman, fisik). Bagaimana generasi yang kuat bisa tumbuh dalam keluarga yang rapuh dan tidak paham makna berkeluarga? Apa yang sudah terjadi pada saya dan keluarga adalah PR besar yang harus kami selesaikan. Tapi, saya berjanji pada diri sendiri, saya harus berusaha menyelamatkan anak saya dan siapapun semampu Saya.

Menjadi orang tua, artinya bukan Cuma mendidik dengan marah-marah, menyekolahkan dan memberi makan, tetapi menyiapkan anak-anak kita menuju masa depan mereka. Kehidupan yang akan dihadapi anak-anak kita di masa depan akan berat. Kita sebagai orang tua harus bersaing dengan gadget, game, internet, teman, lingkungan, media massa dan sebagainya. Maka, saya memberikan tangan saya, ayo bersama-sama kita jaga anak kita, kita cari ilmu. Dan jika usaha kita belum berhasil menjadikan anak kita sebagai orang yang bertanggungjawab, setidaknya di akhirat nanti Tuhan sudah mencatat usaha kita.

Terima kasih sudah membaca tulisan Saya.

Posted by 0 Responses
     

Leave a Reply to this Post

Feb
13
2015
 
 
Lisya Weblog Search form
Recent Comments
  • Nurhablisyah: Materi slide ada, hanya untuk melindungi kepentingan saya sebagai penyusun materi, maka saya...
  • Ringgo: Apakah ada materi dalam bentuk slide bu? Murid lebih menyukai pelajaran dengan slide sepertinya. Terima...
  • Senter Police: Oke makasih bu Dosen :D
  • Pusat Variasi Motor: saya senang atas artikel anda ini sangat membantu saya akan kembali untuk lain waktu agar dapat...
  • Variasi Motor: makasih ya mbk