Seandainya Aku bisa Lebih Membahagiakanmu | Lisya Weblog

You are here:
Home » Cerpen » Seandainya Aku bisa Lebih Membahagiakanmu

Seandainya Aku bisa Lebih Membahagiakanmu

 

Seandainya Aku bisa Lebih Membahagiakanmu
Oleh Lisya (Kisah negeri pengantin)

Menikah dengan orang yang engkau cintai rasanya seperti menghirup udara pagi di pegunungan…sejuk, dan tentunya memberikanmu kebahagiaan. Namun apa jadinya jika orang yang engkau nikahi tidak demikian. Rasanya mungkin seperti mendengarkan lagu sedih di hujan yang rintik. Hati rasanya perih, namun engkau tidak bisa berteriak. Tapi aku sungguh mencintai istriku…dan berharap seandainya aku bisa lebih membuatnya bahagia.

Aku dibesarkan di keluarga yang tidak terlalu perhatian satu sama lain. Mungkin ayahku…tapi tidak dengan anggota keluarga lainnya. Aku terbiasa dengan keadaan menyendiri. Memikirkan tentang diriku sendiri, dan apa yang akan aku lakukan nanti…sendiri…sendiri..Aku tidak mengenal hubungan lawan jenis sampai akhirnya aku lulus SMU, kuliah dan bekerja. Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta. Kecuali perasaan aneh yang kurasa ketika seorang gadis lewat di depanku.

Waktu itu kami masih sangat kecil, dan ia kelihatan begitu bersinar diantara gadis-gadis lain. Aku tak pernah mampu menatap matanya. Walau setiap hari ia selalu menyapaku dengan senyum manisnya. Selebihnya aku merasa biasa saja.

Aku sangat marah ketika mengetahui ia telah bersama orang lain, apalagi waktu aku hendak mengucapkan selamat ulang tahun ke tujuh belas padanya. Seorang pemuda dengan motor sportnya datang mendahuluiku. Dan apalah artinya aku yang tidak kelihatan ini.

Aku juga tidak terlalu fasih meluapkan emosi dan perasaan, sehingga ketika aku mencoba berterus terang pada teman laki-lakiku tentang perasaanku, mereka mentertawakan aku. Malah beberpa teman mengira aku ini seorang gay. Keterlaluan!!!!.
Namun aku bersyukur, aku bisa memperoleh pendidikan terbaik dengan masuk perguruan tinggi tanpa tes (PMDK). Aku juga bersyukur, di saat anak remaja lain sibuk hura-hura aku bersama temanku dipengajian sibuk mencari mentor spriritual. Aku bersyukur atas segala hal yang terjadi padaku.
Dengan keadaanku yang seperti itu, aku cenderung merasa minder dan tidak PD. Padahal saat ini aku sudah bekerja. Semua temanku sibuk pergi bersama gadis mereka di setiap akhir pekan. Jangan ditanya apa kesibukanku saat itu?…tapi aku harus mengakui bahwa di akhir pekan kesibukanku adalah mencuci pakaian kotr, menyetrika, dan bersih-bersih atau sekedar bersenda gurau bersama ibu kos. Ibu sering meledekku, katanya…ko aku belum punya pacar?…aku Cuma senyum saja. Tidak tahu menjawab apa. Aku tidak pernah membayangkan masa depan. Yang aku pikirkan saat ini aku harus berusaha sangat keras. Karena aku tahu hidup itu amat tidak mudah.

Oh iya, si gadis itu. Entah bagaimana caranya, kami akhirnya bisa bertemu lagi. Dan disaat pertemuan itu ada dorongan yang kuat di dalam hatiku. Aku harus mendapatkannya. Dengan segenap keberanian yang kumiliki kuutarakan keinginan itu. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku jadi begitu, rasanya seperti bukan aku saja. Setelah beberapa lama telpon dan sms, aku main ke rumahnya dan bertemu orang tuanya. Di luar dugaanku orang tua Maya sangat menghargaiku.

Dan..setelah beberapa pertemuan kami sepakat menikah. Terlalu mudah ya?…aku sendiri juga heran. Ini seperti mimpi saja. Dan dia itu benar-benar cantik. Sampai kini kami telah menikah 6 bulan. Sering kali aku terbangun di tengah malam dan memandang wajahnya yang lembut, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ini bukan mimpi. Dan betapa udara sejuk di pagi hari itu bisa kuhirup setiap saat.

Maya adalah gasi yang sangat ekspresif, tapi aku benar-benar tidak keberatan. Justru karena begitu akuk makin sayang padanya. Aku merasa ia bisa melengkapi hidupku yang sepi dan diam. Suatu malam kudengar Maya menangis terisak. AKu sangat terkejut ia sudah tidak ada di sampingku. Ternyata ia berada di ruang tamu. AKu takut sekali…aku berpikir lama..apa aku sudah menyakitinya?…aku benar-benar tidak berani mendekatinya. Aku pura-pura tertidur, dan Maya akhirnya masuk ke kamar lagi. Aku tidak bertanya keesokan paginya, aku berharap ia akan ceritaa padaku namun harapanku salah. Dan kejadian itu kini sudah berulang-ulang sampai aku sudah tidak dapat menghitungnya. Aku sangat bingung.

Sebenarnya aku sangat ingin menanyakan peristiwa aneh itu pada Maya, tapi aku takut…aku takut mendengar jawabannya. Aku takut mengetahui bahwa aku terlalu mengecewakan untuk Maya. Dan aku takut Maya tidak mencintaiku.

Aku juga sering menyalahkan diriku sendiri. Aku seperti pria bodoh saja yang tidak tahu kemana arah jalan yang benar. Aku tidak terbiasa curhat pada orang lain, terlebih dengan ibuku sendiri, aku sangat tidak dekat. Aku merasa secara fisik aku sungguh dekat dengan Maya, tapi tidak dengan perasaan kami.

Sore itu sehabis makan malam, Maya mengajakku berbicara. Dia bicara banyak sekali…sehingga aku tidak paham maksudnya. Dia minta aku lebih sensitif, aku orang yang cuek, aku tidak bisa memimpin keluarga, aku yang jarang bicara, pokoknya banyak sekali kelemahanku. Aku seperti ingin menangis. Aku ingin memeluknya dan meminta maaf. Terbersit juga penyesalan di dalam hatiku, mengapa aku seperti ini?..mengapa aku tidak bisa membuatnya lebih bahagia?…mengapa aku tidak pernah belajar?…

Ini ulang tahun pertama pernikahan kami. Sedikit demi sedikit Maya berubah dan akupun demikian. Walau buah cinta belum berada di tengah-tengah kami, kami tetap berusaha menjaga cinta dan keharmonisan ini. Aku berniat memberikan sebuah kejutan untuk Maya. Kemarin ketika kami berjalan di teras pertokoan, Maya terlihat termanggu memamndang liontin bewarna biru. Liontin itu memang cantik, rasanya pantas sekali jika dipasangkan di lehernya yang jenjang.

Uang bonus sudah keluar, lalu harus menunggu apa lagi?…aku semangat sekali hari ini. Sayang hujan turun dengan lebat ketika itu. AKu harus menunggu beberapa lama di kantor. Saat itu teman-teman sudah banyak yang pulang, tinggal aku dan seorang sekretaris direksi bernama Wanda yang belum pulang.
“Mas Haryo masih di sini?….â€? ujarnya ramah sambil menghampiriku
“Iya…mau pulang tapi nunggu hujannya agak reda…�
“AKu ada mobil, barengan aja yuk….�ujarnya ramah
“Aku mau ke Atrium dulu Wan…�
“Wah kebetulan donk…aku juga mau ke sana barenga aja…..�
Tanpa berpikir panjang aku langsung menghampirinya dan langsung melonjat ke mobilnya.

Sepanjang perjalanan Wanda begitu ramah dan ceria. Tanpa kusadari tangannya juga ramah menghampiri bahu dan pahaku. Sebenarnya aku agak risih juga, tapi aku benar-benar tidak punya perasaan apa-apa dengannya. Sekitar 15 menit kami sampai di Atrium. Aku ingin berpamitan padanya namun katanya ia ingin menemaniku. Aku sungguh tidak berpikir macam-macam padanya dan langusng menuju toko yang aku maksud.
“Ini loh Wan, yang disukain sama Maya, bagus engga?…â€? ujarku padanya
“Bagus…bagus banget….tapi ada lagi Mas Haryo yang lebih bagus….�
“Yang lebih bagus?….dimana?….â€? kataku penasaran
“Engga di sini…yang bagus itu di Melawai…modelnya macem-macem…dan harganya lebih bersaing…..�
Aku terdiam dan berpikir lama sekali.
“Kalau Mas mau nanti aku anterin deh ke sana…tapi udah malem gini nih…makan dulu yuk…..aku laper….� Wanda langsung menyeret tanganku dan beberapa saat kemudian aku sudah berada di depan kasir restoran junk food.
“Mas….seratus dua puluh ribu tuh……� katanya dengan nada centil
Aku langsug merogoh saku dan mengeluarkan jumlah yang dimaksud. Pikiranku kalut, uang segini terpakai untuk beli maknan yang tidak berguna, padahal aku yakin maya di rumah sudah memasak masakan spesial. Apa-apaan ini?…mengapa aku tidak bisa langsung saja meninggalkan gadis ini?…mengapa aku tetap di sini meladeni ocehannya?..Ya Allah ada apa denganku?….

Syukurlah pertemuan kami hanya terjadi di situ, dan aku langsung permisi pulang setelah tidak dapat menelan butiran-butiran chicken nugget yang hambar. Otakku penuh dengan rasa penyesalan. Kulihat jam tangan sudah hampir jam sepuluh malam, misscall dari Maya sudah ada 8 kali, tapi karena suasana bising di mall aku jadi tidak dengar. Dengan penuh ketakutan kuketuk pintu kontrakan kami, sepertinya Maya sudah tidur.

“Assalamu’alaikum May…ini Mas nih…..� aku berusaha untuk tenang.
“Wa’alaikumussalam……� Maya terdengar membuka pintu.
“Hey!!!!…ko malem gini baru pulang?…eh Iya, happy 1st Anniversary Dear…â€?ujarnya sambil tersenyum dan mendaratkan ciuman mesra di pipiku.
“lembur…�kataku sekenanya.
“Dah makan?…â€? tanyanya manja
“he..eh…tadi ada makanan di kantor…kamu?…â€?
“Aku belum…tapi udah tidak lapar…..� Maya pergi ke dapur lalu membuatkan minuman untukku.
Aku duduk sejenak, tidak berkata apa-apa. Lalu meminum tehku dan mandi. Semalaman itu aku tidak bisa tidur dan tidak bisa memikirkan apa-apa. Lalu kupandangi lagi wajah maya. Ya Allah…maafkan aku. Aku langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajud.

Sudah tiga hari terakhir ini aku menjadi sangat pendiam, rasanya maya juga sudah bosan padaku. AKu ini selain membosankan juga pengecut dan pembohong. Aku harap Ibuku tidak pernah menyesal melahirkan putra seperti aku. Aku ingin sekali berkata yang sejujurnya pada Maya, tapi sekali lagi aku takut…aku takut melihat reaksinya. AKu takut…aku takut dia meninggalkannku. Memang kedengarannya bodoh, tapi itulah yang aku pikirkan. Semua pria akan merasa seperti itu jika meraka bersalah.

Tadi aku berpapasan dengan Wanda, cih…untuk mengingat kembali kejadian itu aku jadi enggan menyebut namanya. Dia tetap seperti biasa dengan senyumannya yang centil. Tapi sepertinya ada yang aneh. Ada sesuatu yang aku kenal.

Saat makan siang Wanda datang menghampiri mejaku.
“Mas Haryo……� suaranya manja sekali
“Ehm…..�aku acuh tak acuh
“Lihat deh….aku beli ini loh….� Ujarnya memamerkan sesuatu yang menggantung di lehernya.
Astaghfirullah….itu kan kalung dengan liontin bewarna biru yang diinginkan Maya kenapa bisa ?…
“Aku beli ini loh…ternyata bagus juga yah…..�lalu Wanda pergi sambil tertawa genit. Sangat menyebalkan!!!.

Aku tidak pernah akan memafkan diriku sendiri karena tidak membelikan liontin itu. Aduh aku benar-benar tolol, bagaimana jika Maya bertemu dengan Wanda?…apa yang akan dia pikirkan?..ya Allah beri aku pertolongan secepatnya.

Aku duduk di depan meja sambil nonton TV, Maya sedang berada di kamar mandi.Ponselnya berbunyi, refleks aku mengangkatnya.
“Halo….� Kataku
“Halo…Mayanya ada?…â€? suara laki-laki di ujung sana menyahut
“Lagi di kamar mandi…dari siapa ya?…â€? tanyaku tanpa curiga
“Ini dari Dani, Hey Yo…selamat Ulang tahun pernikahan ya..ya sudah ..titip salam aja untuk Maya yah….� Lalu laki-laki itu langsung menutup telponnya sebelum aku membalasnya. Aku tahu siapa dia, dia itu teman laki-laki Maya, hubungan mereka waktu itu cukup dekat. Tanpa berpikir panjang aku langsung terbakar rasa cemburu. Maya yang baru keluar dari kamar mandi langsung aku labrak.

Aku marah-marah seperti orang gila. Dan aku baru tersadar waktu Maya menangis dan membanting pintu kamar.
“Brak!!!!�

Sudah tiga hari Maya tidak mau berbicara padaku. Aku juga tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Jika keadaan sudah begini, aku menjadi sangat menyesal terlahir dengan sifatku ini. Aku sendiri sudah bosan!!! Tapi aku harus menyelesaikannya.

“May…ngobrol bentar bisa?…..â€? aku memanggilnya ke ruang tamu.
Maya duduk di depanku.
“Aku minta maaf kejadian tiga hari yang lalu….aku kesel aja Dani masih nelpon-nelpon kamu…..� Maya hanya terdiam.
“Dani aja masih inget sama ulang tahun pernikahan kita….kenapa kamu suami aku sendiri engga inget?….â€? pertanyaan Maya benar-benar mengejutkan aku.
“Aku inget kok….�
“Kamu engga kasih selamat ataupun kado….malah kamu pulang malam…engga ada telpon lagi…engga ada alasan lagi….emangnya enak nungguin!!!!� Maya mulai emosi.
“Aku kan lembur…..� kilahku
“Oh ya?….sebelum kamu pulang Wanda nelpon ke sini, nanyain kamu udah pulang apa belum….katanya di kantor engga ada lembur…..kamu bohong Mas!!!!kamu kemana?!!!!â€?
Kini akulah menjadi kaku. AKu tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya.
“May…maafin aku…aku waktu itu pergi sama Wanda…
dia bilang dia mau anterin beli liontin…taunya uangnya kepake buat makan. Aku beneran udah siapin semuanya…tapi….� Aku gugup sekali.

“Pake nyalahin Wanda lagi!!!…untung dia nelpon, kalo engga mana aku tahu kamu bohong!!!…aku engga nyangka Mas…kamu diem-diem gini ternyata suka bohong yah!!!!…dan masalah telpon dari Dani lagi…aku sama dia udah cerita lama…kamu juga tau…engga usah cari alasan buat nutupin kesalahan kamu…dasar tukang bohong….!!!â€?
Wanda masuk ke kamar dan sekali lagi ia membanting pintu “BRAK!!!!!�

Hari-hariku saat ini bagaikan mendengarkan lagu sedih di hujan deras. Hatiku perih. Setiap hari aku pergi ke kantor, tidak lupa aku cium pipinya yang lembut. Setiap hari aku ucapkan maaf padanya. Aku tidak peduli apa ini berhasil atau tidak, hanya ini yang bisa aku lakukan.

Beberapa minggu kemudian Alhamdulillah aku mendapat rezeki dari uang lemburku. Beberapa rupiah sengaja aku sisihkan demi menebus kesalahan. Aku tahu ini kecil sekali kemungkinannya, tapi Maya adalah orang yang sangat menghargai usaha suaminya. Malam itu aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku pergi ke toko dan membeli kalung dan liontinya. Hadiah yang ini harganya lebih mahal tapi aku tidak peduli. Akan aku lakukan apapun demi istriku tercinta.

Kuberikan kado itu pada Maya. Matanya bersinar seperti mutiara. Aku tahu bukan karena kadonya, tapi karena perhatianku. Sudah lama aku merindukan mata seperti itu. Menjelang tidur aku mengatakan sebenarnya apa yang terjadi pada saat ulang tahun pernikahan kami yang pertama, dan bagaimana Wanda memperlakukanku saat itu. Maya menatapku dalam-dalam.

“Mas…tau engga?….aku selalu berdoa siang malam…supaya Allah jagain kita…semua ucapan, perbuatan, hati, dan pikiran kita dijaga…kalau benar Mas Haryo tidak salah, dan jujur, aku juga akan maafin….satu lagi Mas….kadang…diam itu bukan selalu emas, dan kejujuran itu…walaupun menyakitkan di akhirnya bisa membuat bahagia…..â€?

Sejak saat itu aku menyadari keadaanku, aku seorang suami yang terikat dengan janji-janji di mata Allah. Aku bertanggungjawab atas keluargaku. Dan aku akan menjadi contoh bagi mereka. Aku menyadari bahwa rasa sayangku selama ini tidaklah cukup, bukan itu saja modal yang diperlukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ada kesabaran, keterbukaan, pengertian, dan terpenting adalah tindakan. Ucapan itu yang terus-menerus menempel pada otakku. Dia benar-benar istri dan wanita terbaik yang pernah aku miliki. Aku akan selalu mendoakannya, dan selalu berharap, andai setiap saat aku bisa lebih membahagiakannya.

Posted by 0 Responses
     

Leave a Reply to this Post

Jan
20
2006
 
 
Lisya Weblog Search form
Recent Comments
  • Nurhablisyah: Materi slide ada, hanya untuk melindungi kepentingan saya sebagai penyusun materi, maka saya...
  • Ringgo: Apakah ada materi dalam bentuk slide bu? Murid lebih menyukai pelajaran dengan slide sepertinya. Terima...
  • Senter Police: Oke makasih bu Dosen :D
  • Pusat Variasi Motor: saya senang atas artikel anda ini sangat membantu saya akan kembali untuk lain waktu agar dapat...
  • Variasi Motor: makasih ya mbk