Jilbab Putih | Lisya Weblog

You are here:
Home » Cerpen » Jilbab Putih

Jilbab Putih

 

Jilbab Putih
Oleh Lisya (Jilbab Pertama)

Judul ini kedengaran sangat biasa ya?…sepertinya banyak sekali tulisan, bahkan judul lagu yang memakai kata-kata ini. Tapi memang inilah kenyataan yang aku hadapi. Aku berhubungan dengan selembar kain yang menutupi kepalaku sepanjang hari…dan akhirnya benar-benar mengubah hidupku. Ya, aku kini telah memakai jilbab. Dan jilbab itu bewarna putih.

Wajahku lesu memandang lurus ke bawah. Kami baru saja mendapat hasil ujian ebtanas. Artinya sebentar lagi kami akan merasakan memakai seragam putih abu-abu. Duh indah sekali. Selama ini aku selalu iri ketika melihat kakak-kakak yang memakai seragam SMU. Mereka terlihat dewasa dan sangat mempesona. Kelihatannya benar-benar pantas untuk disebut sebagai wanita yang sesungguhnya…(aku berlebihan sekali ya, tapi itu lah yang memang kurasakan).

Seperti biasa, aku dan kesembilan teman-teman terdekatku pulang bersama. Kami menyusuri jalan sederhana di kawasan Cijantung. Aku sangat bersyukur karena jalan ke sekolahku masih ditumbuhi pepohonan yang rindang, bahkan ada anak sungai segala. Pokoknya pergi dan pulang sekolah selama tiga tahun ini memang sangat menyenangkan. Selain beberapa teman pria memang juga suka menggodaku. Hey, aku juga harus mengakui mereka itu benar-benar membuat aku jadi semangat, setidaknya lebih PD-lah, bahwa aku ini cukup mempesona…hahahaha.

“Far…lo ko diem aja…..� Putri seorang teman sebangkuku membuyarkan lamunanku. “Engga apa-apa…� aku jawab sekenanya.
“Far…lo enak, nem lo bagus…kayaknya buat masuk sekolah favorit lo ga masalah….kita-kita ini nih yang pusing…..sekarang gue, Bianti, dan Rahma mau ke Al-Azhar, kita mau beli formulir. Ada yang mau ikut?…â€? Kata Novi, cewek kurus yang memiliki kulit putih yang bersinar.
“Lo ko ngajakin Farah…dia mah udah masuk ke 14….� Tari menanggapi
“Engga…gue engga ikut.…tapi ada yang pengen gue diomongin neh….bisa berenti sebentar ga?…� pintaku. Teman-teman menghentikan langkahnya dan melihat ke arahku.

“Guys…InsyaAllah…nanti kalo udah masuk SMU, gue mau pake jilbab….� ucapku sambil terbata-bata.

Bisa kurasakan betapa teman-temanku akan terkejut mendengarnya. Mereka semua muslim, namun memang tidak bisa dipungkiri kalau jilbab memang masih menjadi momok bagi remaja muslim. Aku paham sekali perasaan mereka. Kami biasa menghabiskan waktu libur di mall, nonton film, atau sekedar jalan-jalan bersama. Kami sangat dekat, membicarakan segala hal, layaknya remaja pada umumnya.

Aku sendiri sangat mencintai sahabat-sahabatku ini, tiga tahun menjalani masa sebagai pelajar SMP, amatlah menyenangkan. Teman-temanku adalah orang yang paling dekat dan mengerti tentang diriku.

Awal masuk SMP memang aku tidak terlalu dekat dengan mereka, namun seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa merekalah teman-teman yang bisa aku andalkan. Ada Ida yang selalu ingin terlihat seksi tapi cengeng, Bianti yang kurus tinggi dan lucu. Rahma yang tegas dan pintar. Tari yang tomboy, Lena yang sering telat dan suaranya bagus, Irma yang setia kawan tapi malas mengerjakan PR, Putri yang asik diajak curhat tapi rada matre, Novi yang cantik tapi judes, lalu ada juga Dwi yang imut dan tidak tegaan. Mereka semua ini telah menjadi bagian hidupku selama tiga tahun di SMP, mana mungkin aku tidak mempedulikan pendapat mereka.

Novi memandangku lama sekali. Kami berhenti cukup lama, sehingga beberapa teman lain menyusul kami.
“Ok…gue ngerti ko Far…lagian diantara kita semua, emang elo kan yang paling alim….�Ujar Novi

“Yah…tapi sebenarnya gue pake jilbab bukan gara-gara gue alim….� Aku berdalih
“Bokap gue pengen banget gue pake jilbab…dan gue emang udah nazar, kalo diterima di SMU yang gue inginkan, gue emang mau pake…jadi please yah…nanti jangan pada kaget. Kita masih bisa tetep jalan-jalan kok…masih bisa bareng….�.

“Ok…kita engga ada masalah ko Far…�Kata Tari sambil senyum.
Aku bersyukur sekali, ternyata keputusanku memang tidak akan berdampak pada persahabatan kami. Lalu perjalanan pulangpun kami lanjutkan. Hatiku agak lega sekarang.

“Far…bukannya kalo pake jilbab itu harus dari dalem hati…bukannya karena disuruh ortu..atau nasar…artinya kan sebenarnya elo engga pengen kan?…â€?Putri terdengar agak sinis.

Aku bisa memahami apa yang Putri rasakan, dia adalah sahabat yang paling dekat diantara kesembilan orang lainnya. Aku tersenyum. “Iya sih…awalnya emang bokap maksa gue mulu…trus gue emang nazar. Tapi lama-kelamaan gue mikir juga. Kenapa gue harus menolak kalo ternyata itu emang baik buat gue?….gue Cuma sedang berusaha aja Put….berusaha jadi orang yang lebih baik….â€? ujarku santai.

Sebenarnya jauh di dalam hati ini aku juga merasakan perasaan yang kalut. Aku takut…takut sekali, bagaimana kalau orang memandang aku tidak seperti dulu?…bagaimana jika teman-teman yang lain mengetahui hal ini, apa mereka tidak akan meledekku?…Lalu apa aku masih bisa seperti dulu?…jalan sana-sini…ngeceng …flirting sama cowok keren…ko kalo masih bisa kelihatannya engga bagus sama sekali yah…malah nantinya bukan hanya merusak nama baikku sendiri tapi juga nama baik keluarga dan yang terparah nama umat muslim di dunia.
Ini nih, si Farah…Si Jigul (Jilbab Gaul)…Ya Allah…jangan sampai ada yang berpikiran buruk terhadapku.

Tidak terasa perjalanan kami sudah sampai di sebuah persimpangan lampu merah. Artinya kami harus melanjutkan perjalanan ini ke rumah masing-masing.

“Farah…di luar ada temen kamu tuh…..� Tante Ida memanggilku. Aku ogah-ogahan ke luar kamar. Siapa pula malam-malam begini main ke rumahku.Kayaknya engga mungkin deh. Aku hanya mengintip dari balik jendela. Ada dua sosok pria di balik sana. “Tante…itu bukan teman Farah…teman Pras kali…..� aku masuk lagi ke kamar. Beberapa saat kemudian Tanteku balik lagi ke kemar ku, “Farah,…dia sendiri yang bilang mau ketemu kamu…bukan Pras…ngaco deh….eh, tapi yang satu manis loh….�Tante Ida menggodaku.

Aku berpikir sebenatr, lalu akhirnya ke luar kamar. Walau dua minggu lagi akau akan mengenakan jilbab, aku belum menyiapkan busana yang baru dan lebih panjang. Aku sangat terkejut waktu aku mengetahui siapa yang datang. Dengan perasaan grogi aku persilahkan dua orang itu masuk, dan menyiapkan minuman. Sumpah, ketika itu jantungku berpacu sangat cepat. Aku berdoa sebanyak mungkin semoga aku tidak menumpakn minuman karena grogi, atau terpeleset sehingga kepalaku terpentok meja. Ini akan sangat memalukan dan menurunkan reputasiku. Alhamdulillah semua itu tidak terjadi, dan aku sepertinya terlihat mempesona, karena kedua orang itu sempat memujiku. Tentu aku GR, namun sebagai perempuan aku berpura-pura jual mahal.

Seorang dianataranya sangat aku kenal, kami cukup dekat beberapa bulan terakhir. Tapi menjelang detik-detik ebtanas aku ingin kosentrasi dan akhirnya hubungan kami renggang. Namun kami tetap bertegur sapa ketika berpapasan, dan dia tetap mengirimkan salam manisnya setiap hari untukku.

Di depan sudah ada Anton, kami cukup dekat beberapa bulan terakhir ini. Dia terlihat agak terkejut ketika melihat penampilanku.

“Ada apaan nih…ko malem-malem ke sini?….
Cowok manis yang suka sekali memakai topi hanya tersenyum.My God!!! he’so fine….Jangan tanya kenapa aku juga bisa suka sama dia. Semua teman-temanku tidak ada yang setuju ketika hubunganku dengan Anton menjadi terlihat dekat. Awalnya sih dia aja yang suka menggodaku, menghalangi jalanku, menarik-narik rambutku, lalu akhirnya mengirim salam dan menuliskan surat cinta yang aneh.
Dia bukan termasuk golongan anak baik, suka berkelahi, dan yang aku dengar orang tuanya juga sering dipanggil. Nilai-nilainya tidak bagus sama sekali dan gosip terakhir dia dekat dengan narkoba, tapi temannya banyak…dan dia cukup disegani tidak hanya di sekolahku tapi sekolah-sekolah lain. Pernah suatu ketika ketika aku dan dia pulang bersama, sepanjang perjalanan tidak ada obrolan berarti yang kami bicarakan. Anton sibuk memanggil teman-temannya di sepanjang jalan, dan menyapa orang-orang yang ia kenal. Tapi lucunya aku tidak kebertan sama sekali, justru sebaliknya, aku sangat bangga jalan di sampingnya, dan rasanya tidak sabar menantikan untuk pulang bersama lagi.

“Eh iya, kenalin dulu donk…ini temen gue….Yogi….� Anton memperkenalkan aku dengan temannya yang terlihat lebih tua dan bertampang sangar.

“Hai…,� ujarku sambil menjabat tangan Yogi.
“Ton…gue mau beli rokok bentar ya….Far… di depan ada warung kan?….â€?
Aku hanya mengangguk dan tidak lama kemudian Yogi pergi.
Aku semakin grogi, bukan karena ada Anton di depanku, tapi bagaimana jika Papa dan Mama melihat ada cowok yang main malam-malam begini, please…jangan lama-lama yah mainnya. Aku bisa kena damprat neh…kataku dalam hati.

“Far ….keluar sebentar yuk….� Kata Anton mencairkan kebekuan.
“Ngapain?….â€?
“benatr aja…ada yang pengen gue tunjukin sama elo…�
kami berjalan ke halaman. Ternyata di depan rumahku terpakir motor sport terbaru bewarna perak metalik. “My God…what’s mean?…aku benar-benar kaget.
“Hey…motor baru yah…ini hadiah masuk SMU?… aku meledek Anton.
“Far..jalan sekali aja yuk….engga lebih dari sepuluh menit deh….please..�pinta Anton
“Naik ini?…â€? aku kaget sekali
Anton hanya tersenyum
Sebeneranya dalam hatiku aku ingin sekali, tapi kalau aku melakukannya aku benar-benar gila. Ini sudah malam, dan di depan rumahku banyak orang. Pasti omongan mereka akan sampai ke telinga mama, dan ujungnya mama akan mencurigai gerak-geriku. Oh..No…ini tidak akan terjadi.
“Kapan-kapan aja yah……�pintaku pelan
“Sebenarnya ada apa sih Ton?…lo ga Cuma pamer kan motor baru kan?….â€?
Anton menarik nafas, dan memperlihatkan senyum manisnya.
“Far, balikan lagi yuk…..�
“Hah???�
“Kita…balik lagi…kan udah SMU…jadi engga usah backstreet lagi….�

Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Aku benar-benar menikmati saat-saat bersama Anton, dia memang terlihat garang dan nakal, Tetapi selama kami berteman dia sama sekali tidak pernah menyentuhku. Bahkan sebaliknya, dia selalu menjagaku, Menghiburku dengan cerita-cerita konyolnya. Dan kelakuannya yang kadang membuat aku sakit perut menahan geli. Tapi aku tidak bisa. Hatiku yang paling dalam mengatakan jika aku terus bersamanya, sesuatu yang menyakitkan akan terjadi. Aku harus menghentikan ini. Biarlah semua ini menjadi lembaran indah bahwa kami pernah bersahabat dan betapa menyenangkan memiliki kenangan tentang dia dalam lembar hidupku.

“Engga bisa Ton….gue engga bisa….�
“Kenapa?….lo engga lagi naksir orang lain kan?…..â€?
“Bukan…�
“Terus?….â€?
“Gue …gue mau pake jilbab di SMU nanti, gue akan berpakaian seperti ini seterusnya…..�
“Bagus donk….emang ada masalah ?….� Wajah Anton benar-benar kaget
“Iya…gue engga mau..aja….lagian, orang tua gue pasti belum kasih izin pacaran….maafin ya…..�
Aku lihat guratan kesal di wajah Anton, walau sebenarnya bukan itu maksudnya. Kami tidak pernah benar-benar bertengkar selama ini. Selalu saja ada maaf dan berakhir bahagia, walau untuk masa sesulit apapun.

“Gue engga mau pulang sebelum lo bilang iya….� Anton sedikit terdengar mengancam.
“Ton…lo mikirin gue gak sih?….gue engga mungkin kayak dulu lagi…jangankan pergi sama elo naik motor ini, pergi malem sama anak-anak aja udah gak bisa…gue harus mikirin semua tindakan gue donk…supaya engga bikin rusak semuanya….â€? Aku mulai kesal.

“Trus ngapain pake?….ngapain make kalo elo ngerasa itu membatasi lo?….â€? tatapannya tajam, sedetikpun Anton tidak melayangkan pandangnya pergi dariku.
“Siapa yang ngerasa terbatasi…gue emang pengen kok…..�
“Gue tetep engga mau pulang sebelum lo bilang iya…gue engga peduli….nantinya gimana, tapi kita balik aja dulu…please……� kali ini Anton terdengar sangat mengharap. Aku bingung sekali, sebenatr lagi orang tuaku datang. Dan dia belum juga pulang.
“OK…kita coba…..tapi gue engga janji nantinya gimana…..� aku terdengar pasrah. Anton terdiam cukup lama.

“Thanks….ok, udah denger gitu aja gue udah seneng….bokap-nyokap bentar lagi dateng yah…tapi sebagai pacar resmi, gue pengen ketemuan donk….� Ujarnya tersenyum jail.
Tinju pelan ku layangkan di perutnya, “Buk.!!!!�
� Balik gak…..kalo engga…gue tarik lagi nih….� Kini giliran aku yang mengancam.
“OK…deh, gue balik …met bobo yah…kapan-kapan kita ngebut sama ini yah (mengelus motor barunya)….bye…�
“Bye…�

Sejak dulu hubunganku dan Anton hanya terjalin memalalui telpon. Aku sendiri tidak keberatan. Sudah seminggu aku berstatus sebagai pelajar SMU kelas satu. Banyak sekali hal-hal baru yang aku temui, seorang kakak kelas juga sudah ada yang mengirim surat padaku. Aku tidak begitu menganggapinya. Hubunganku dengan Anton juga tidak terlalu baik. Kami teralalu sibuk dan jarang telpon-telponan. Besok adalah waktunya aku berubah. Waktunya aku memakai busanaku yang baru. Busana muslimah, dengan jilbab baru yang bewarna putih.

Tepat saja, ketika Senin itu aku datang dengan penampilan baru, tidak hanya teman sekelasku yang terkejut, beberapa kakak kelas pun terkejut. Kakak kelasku yang anggota Remaja Masjid menyambutku dengan gembira. Peluk cium bertubi-tubi menghampiriku. Aku benar-benar terhair seperti orang yang baru. Aku juga menikmati penampilan baruku ini. Aku sangat suka, apalagi Papa dan Mama selalu mendukungku.Aku bertekad untuk tetap menjaga keadaan ini. Ya Allah bantu farah ya…, kataku pada setiap doa yang kupanjatkan.

Enam bulan sudah aku menjalani kehidupanku yang baru. Tentu banyak sekali perubahan, perubahan yang paling kurasakan adalah aku sudah tidak lagi digoda oleh para cowok itu. Sepi…kadang menjadi hampa.Aku ingat waktu SMP, betapa hari-hariku selalu dipenuhi dengan keceriaan, telpon yang selalu berdering. Sekarang?….

Berada di SMU favorit seperti ini juga menjadi hal yang tidak begitu menyenangkan. Orang-orangnya teralu individualis, mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan belajar. Hubungan sosialku dengan teman-teman sangat buruk, aku sempat frustasi. Aku tidak punya sahabat dekat. Untungnya hubungan dengan teman-teman SMP masih cukup baik. Kami berkumpul kembali di tempat les bahasa Inggris. Sejujurnya aku tidak suka berada di sini, mereka hanya memikirkan pelajaran dan menjadaptkan nilai sebaik-baiknya.

Ako bosan sekali, namun jika aku sanati sudah tentu aku akan tersingkir. Aku juga jadi tidak pernah pergi dengan teman-teman di SMP. Hidupku saat ini sangat membosankan. Ini benar-benar bukan diriku. AKu merindukan masa-masa SMP, tidak perlu belajar terlalu keras tapi nilai sudah cukup bagus. Di sini, belajar mati-matian tetap saja nilainya jelek, Di sekolahku ini juga tidak ada pria tampan yang seru…timbunan buku mungkin lebih menarik bagi mereka dari pada bicara pada seorang gadis. Benar-benar malapetaka, tapi aku sudah terlanjur berada di sini, yang kupikirkan adalah bagaimana keluar dari sekolah ini dan melanjutkan hidupku dengan cara yang lebih menyenangkan dan lebih baik.

Ku dengar sahabatku Ida akan melangsungkan HUT-nya yang ke-17 besok, tempatnya di sebuah Club ternama di jakarta. Dengan keadaanku sekarang tentu saja aku tidak akan dapat bergabung. Ida sempat menelponku, dan memohon agar aku hadir di pestanya. But..please deh…aku bisa jadi orang yang saltum sendiri di sana. Jadi ku tolak dengan halus dan menjanjikan kadonya akan aku kirim ke rumahnya secepatnya.

Aku tidak sabar mengetahui bagaimana pestanya. Seorang teman sekelasku yang juga bertema dengan Ida sempat datang ke pestanya Ida. “Far..kenapa lo ga dateng kemaren?…â€? kata Aldi. “Gilingan luh…ntar satpamnya bigung donk liat gue, Mbak…majelis taklimnya di blok sebelah…..hahahha…tapi seru gak acaranya?…â€? ujarku penasaran.â€?Biasa aja, si Putri ama Bianti mabok tuh…â€?. “What?!!!!â€? aku sangat terkejut mendengarnya, mabok?….no way…aku kenal banget sama kedua orang itu. Dia engga kayak gitu. Malamnya aku langsung menelpon Putri dan menanyakan kebenarannya. Putri berjanji di tempat les dia akan menceritakan semuanya.

Di tempat les mataku jauh mencari dimana putri berada. Sungguh aku tidak percaya yang kulihat. Aku hampir tidak menyangka penampilannya, Putri memakai busana muslimah. “Put?….â€? sapaku terkejut.
“Udah lo jangan nanya-nanya gue deh….gue tau….gue begini bukannya gue mau tobat abis mabok…gue engga sengaja minum lagi, si Lia yang maksa-maksa gue…….bla…bla…bla…�

Aku sudah tidak lagi mengerti apa yang Putri katakan, aku sungguh bahagia atas perubahannya, tidak perlu alasan tepat untuk berubah menjadi lebih baik.Tanpa berakata-kata kupeluk Putri, kurasakan persahabatan kami saat ini jauh lebih dekat, aku merasa menjadi saudara dekatnya.

Aku mulai bisa hidup tanpa pria tampan yang dekat denganku. Tujuanku saat ini bukanlah mendapatkan perhatian sebanyaknya dari lawan jenis, maupun dikagumi orang karena penampilanku. Aku belajar banyak sekali, terutama hubungan yang lebih personal dengan manusia dan hubungan mahluk dengan penciptanya.

Sudah lima tahun aku mengenakan jilbab putih ini di kepalaku, warnanya kini sudah tidak hanya putih, ada hitam, merah, biru, dan hijau. Alhamdulillah jilbab ini pula yang menemani aku pergi ke Bandung untuk menuntut ilmu. Aku menikmati diriku yang sekarang. Dengan aktivitasku sebagai mahasiswa perguruan tinggi negeri.

Aku sudah tidak kesepian lagi, teman-teman di kampus dan kos-kosan cukup ramah dan bersahabat.Di sini banyak pula yang memakai jilbab, dan seorang diantaranya lebih “gila� dan memiliki masa lalu yang menyeramkan. Tapi aku sangat menyayanginya, aku bisa merasakan ketulusannya. Mungkin inilah yang membuat aku merasa nyaman, berada di sekitar orang-orang yang tulus yang menganggap persahabatan sebagai hubungan personal dan emosional. Bukan hubungan fisk yang penuh basa-basi.

Di tanganku sudah ada undangan reuni SMP. Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengetahui kabar teman-teman yag pernah membuat hidupku sangat bahagia. Aku berniat akan hadir di acara itu. Tentunya ada seorang yang sudah lama ingin aku jumpai. Kami memang tidak pernah behubungan lagi sejak peristiwa lalu. Hubungan itu putus begitu saja tanpa ada penjelasan. Mungkin lebih baik seperti itu, kami memang bukan pasangan sesungguhnya. Aku juga ingin terawa dan berbagi keceriaan dengan kesembilan sahabatku. Kusadari sudah lama aku memang tidak menjalin persahabatan dengan pria. Lalu aku buka kembali buku diariku. Aku masih bisa merasakan getaran-getaran itu.Dalam hati aku berdoa, Ya Allah, Jika Engkau mengizinkan aku merasakannya kembali maka itu untuk yang terakhir dan selamanya. See You in Reunion Guys!!!!.

Posted by 0 Responses
     

Leave a Reply to this Post

Jan
20
2006
 
 
Lisya Weblog Search form
Recent Comments
  • Nurhablisyah: Materi slide ada, hanya untuk melindungi kepentingan saya sebagai penyusun materi, maka saya...
  • Ringgo: Apakah ada materi dalam bentuk slide bu? Murid lebih menyukai pelajaran dengan slide sepertinya. Terima...
  • Senter Police: Oke makasih bu Dosen :D
  • Pusat Variasi Motor: saya senang atas artikel anda ini sangat membantu saya akan kembali untuk lain waktu agar dapat...
  • Variasi Motor: makasih ya mbk