DIAM | Lisya Weblog

You are here:
Home » Cerpen » DIAM

DIAM

 

DIAM
Oleh Lisya (Desperates New Wive)

Kesialan itu muncul setelah aku memutuskan menikah dengannya…Ya Allah, sebenarnya aku tidak ingin berpikir seperti ini tetapi mengapa segala peristiwa buruk selalu menimpaku secara bertubi-tubi?…Tolong aku….

“AKu memtuskan untuk menikah dengan Hary…� ujarku pada kedua orang tua. Mama dan Papa terlihat sangat bahagia. Aku masih berusia 26 dan mama papa terus-menerus mendesakku untuk menikah. AKu tidak mengerti mengapa aku memutuskan ini. Aku sudah sholat, sholat Hajat dan segala wirid kukerjakan demi mendapatkan keyakinan di hati. Aku hanya menjalankan hidup ini apa adanya. Yang aku inginkan hanyalah bisa membuat kedua orang tuaku bahagia selagi aku masih bisa.

Sebagai anak pertama, mama dan papa menginginkan pesta pernikahan kami dirayakan dengan cukup istimewa. Untukku ini lebih dari cukup. Namun demikian semua tetap dalam supervisiku, aku tidak ingin rencana yang telah aku rancang sedemikian rupa hancur berantakan. Pesta pernikahan ini setidaknya bisa terlihat sempurna. Aku bekerja keras untuk mewujudkan semua itu. Haryo…dia pasif sekali. Hampir semua keputusan aku yang buat. Sebenarnya aku ragu padanya. Hal ini pernah kuutarakan pada mama, tapi mama menjawab bahwa kalau semua kriteria sudah terpenuhi mengapa harus menambahnya lagi. Apa lagi yang diperlukan selain pria yang sholeh, tanggungjawab, jujur, sehat jasmani dan rohani, dan sudah bekerja.

Untuk pertanyaan di atas akan segera kujawab. Aku butuh keceriaan dengan lelucon-lelucon lucu dan cerdas, aku butuh diskusi kritis yang berorientasi masa depan, aku butuh pemikiran yang melahirkan keputusan yang tepat, dan aku butuh perlindungan dari suami yang bisa menjaga keluargaku dari hal-hal yang tidak kuiinginkan.

Baiklah, mungkin aku terdengar seperti perempuan yang tidak tahu bersyukur dan banyak menuntut. Aku terima bagi orang yang menilaiku demikain. Tapi itu memang yang aku butuhkan. Melihat latar belakang Haryo dan keluarganya, aku menjadi terlalu pesimis. Tapi sekali lagi aku memutuskan untuk menerima pinangannya, dengan apapun keadaan dirinya dan dengan apapun resiko yang akan kuhadapi setelah hidup bersamanya.

Aku sering menangis di tengah malam. Karena sepanjang hari aku tidak mendapatkan perhatian dari seorang suami sebagaimana yang kuinginkan. Haryo hanya bicara sekedarnya saja padaku. Awal pernikahanku mirip sekali dengan adegan drama tahun 80-an. Dialognya mudah dihafal dan ditebak.
“Eh, Mas sudah pulang….�
Tanya : “Mau makan?….�
Jawab : “Iya…�
Tanya : “Di kantor tadi bagaimana?….â€?
Jawab :�Biasa saja…banyak kerjaan…sibuk….�
Lalu nonton acara misteri di TV…makan malam…tidur.

Selama berhari-hari aku dan Haryo melakukan hal yang sama. Ini sama sekali berbeda dengan kegiatannku semasa melajang. Hari-hariku penuh dan sibuk dengan segala kegiatan. Meeting dengan klien, hang out bersama teman-teman, atau sekedar pergi bersama adik-adikku di akhir pekan.

Please, aku sudah banyak melihat wanita karier yang lalu menjadi ibu rumah tangga dan tidak melakukan berbagai kegiatan selain mengasuh keluarga, mereka terlihat lebih tua dari umur mereka. Dan aku tidak ingin itu terjadi padaku. Hari-hariku harus produktif dan bermanfaat!!!

Aku menagis di malam hari, karenma aku tidak tahu kemana aku harus mencurahkan perasaan ini. Mama memberiku saran, sholat malam dan curahkan semuanya pada Allah. Aku sudah lakukan itu, tetapi tanpa aku mengajak Haryo bicara ini tidak akan berhasil.

Mengajak dia bicara?…ini sama saja bicara dengan anak umur 5 tahun. Setiap aku bicara serius, dia hanya menatapku dalam-dalam dan DIAM….
Diam saja …tanpa komentar apapun. Andai aku bisa membelah otaknya dan melihat apa sebenarnya yang ia pikirkan, mungkin aku sedikit lega, setidaknya aku bisa tahu ia mendengarkannku dan berpikir tentang apa saja yang baru aku katakan. Atau dia tidak mendengarkanku sama sekali dan akhirnya aku harus mencari cara lain bagaimana aku harus berkomunikasi yang tepat dengan mahluk ini.

Ya Allah…aku benar-benar bingung!
Apa aku terdengar kejam sebagai seorang istri?…tidak?…tapi mungkin aku terdengar seperti istri yang egois dan suka mengatur….
Helllo????…..
Aku hanya ingin yang terbaik bagi keluargaku…dan bersabar tanpa usaha saja tidak cukup bagiku.
Tidak kubayangkan jika kami sudah memiliki anak, didikan apa yang akan kami berikan pada buah hati kami kelak?….diam bagiku tidak menyelesaikan permasalahan. Maka sebelum Tuhan mengizinkan kami mengasuh titipannya, lebih baik aku berusaha memperbaiki diri. Toh Allah Maha Tahu.

Satu lagi yang membuat perasaanku kalut setelah tiga bulan menikah dengannya. Secara tiba-tiba perusahaan tempat aku bekerja bangkrut, dan aku beserta teman-teman harus dirumahkan dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Di saat yang bersamaan, ayahku masuk rumah sakit dan harus menjalani operasi.

Aku mengais lagi di malam hari, aku ingin mencurahkan perasaan hati ini…tapi kepada siapa?…
Aku sholat malam lagi, dan aku tetap ingin mencurahkan perasaanku kepada orang yang disebut sebagai suami. Tapi aku tidak bisa, karena kalau aku cerita dia hanya mendengarkan, tidak memberikan komentar atau kata-kata yang melegakkan hati. AKu seperti orang yang mendongeng. Lalu aku menjadi kesal, dan mengumpat dalam hati. Lalu aku mengais lagi.

Aku sudah telpon beberapa sahabat dekatku. Mereka inilah satu-satunya yang bisa aku ajak bicara. Yang bisa bertukar pikiran dan memberikan dukungan dengan cara yang tepat.

Haryo memang tidak “sebodoh� itu. Dia hanya tidak bisa mengekspresikan dirinya. Aku tahu sebenarnya di dalam hatinya yang paling dalam ia ingin memberiku semangat dan dorongan, tapi tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya. Ia hanya ikut menemaniku membesuk papa di saat libur. Lalu menolong adikku yang paling kecil membuatkan PR.

Namun kali ini aku sudah tidak tahan.
Aku tidak tahan di rumah terus, aku ingin bekerja.
Aku ingin memiliki uang sendiri dan membahagiakan orang tuaku. Setidaknya meringankan biaya operasi papa.

Lalu aku berpikir lagi….ini adalah keputusan yang telah aku ambil dan aku harus menyelesaikannya sendiri…mencari jalan keluarnya.
Disadari atau tidak, aku mulai bisa menerima Haryo…caranya adalah dengan menjadi pendiam seperti dia. Rumah tangga kami benar-benar seperti makam. Hanya ada suara TV tanpa ada percakapan anatara penghuninya.

Lambat laun Haryo mulai menyadari perubahanku. Dia sepertinya tidak enak, namun sekali lagi dia tidak bertanya. Aku juga sudah lelah untuk selalu memulai, jadi kubiarkan saja. Selama telpon tidak dikunci, aku bebas curhat dengan teman-temanku. Tentunya aku mengerti siapa saja yang boleh aku ajak diskusi. Aku tidak pernah mengundang teman pria sebagai lawan bicaraku, aku cukup tegas untuk urusan ini. Aku tidak mau bermain api.

Caraku ini ternyata berhasil. Menjelang tidur Haryo mulai bicara (akhirnya setelah 2 minggu…tahan sekali dia…). Dia mulai beranya padaku tentang apa yang sebnarnya terjadi. Dan betapa dia igin belajar memahamiku dan belajar menjadi suami yang lebih peka. Aku lalu menjelaskan panjang lebar. Dan sekali lagi untuk berapa kalinya dia Diam!!!.

Ada sedikit perubahan, kini percakapan kami mulai berkembang, dari masalah berita di TV, di koran sampai reaksi dari teman-temannya. Ada lagi, dia selalu bermain dengan ponselnya. Awalnya aku tidak mengambil pusing, namun kelamaan hal itu menjadi menganggu terutama bila sedang ada pembicaraan serius.

Lalu, aku marah…
Aku tersinggung karena ketika aku membicarakan tentang sakit yang diderita ayahku, haryo lebih asik main game di ponselnya.
Aku menagis lagi di tengah malam…tapi aku tidak tahu apa haryo sadar atau tidak…

Apa sekarang aku jadi terdengar seperti wanita cengeng?…..
Aku tidak seperti ini sebelum menikah. Aku tidak pernah menangis …apalagi di depan orang…aku sendiri tidak suka perempuan yang selalu menangis..tapi kini lihatlah…aku melakukannya…
Aku menjadi tidak bahagia….dan berpikir bahwa menikah dengannya adalah salah.

Sore itu aku ada di rumah sakit. Aku harus ke apotek yang berada di lantai dua untuk membeli obat papaku. Sore hari rumah sakit masih terlihat ramai. Diantara orang yang mengantri di sana aku melihat sosok pria yang aku kenal.
“Ya Allah…ini tidak mungkin…sedang apa dia di sini?….â€? aku berkata dalam hati.
Dugaanku ternyata benar. Dia itu Yongki.

Sudah hampir tiga tahun kami tidak pernah bertemu. Dia lain sekali. Jujur aku harus mengakui ia bertambah tampan. Tubuhnya yng dulu kurus kini lebih atletis dan berisi. Dan gayanya yang dulu lebih mirip kekanankan kini lebih terlihat matang. Aku mulai melirik diriku, mulai ujung kaki hingga ujung jilbabku. Semoga aku tidak terlihat jelek dan kusut. Dan aku tidak akan mengurnya lebih dulu. AKu ingin biar dia sendiri saja yang menyadari aku ada di dekatnya.

Doaku terkabul!!!
Dia menyadari kehadiranku.
“Farah!!!!!� Yongki terlihat amat terkejut memandangku.
Langsung aku pamerkan senyumku yang paling cemerlang.�Hai….!!!�
“Kamu lagi ngapain di sini?……â€? tanyanya ramah.
Aku lalu menceritakan panjang lebar kegiatanku selama beberapa hari terakhir ini di rumah sakit. Saat itu Yongki juga tengah membeli obat. Dan yang membuatku sedih adalah obat itu untuk kekasihnya yang dirawat di rumah sakit yang sama. Aku tentu kecewa…ini kedengaran tidak wajar ya?….tapi mungkin akan sedikit bisa dipahami jika aku dan Yongi dulu pernah punya hubungan khusus, dan kami harus berpisah karena aku memutuskan untuk menikah lebih dulu dan dia belum sampai saat ini.
“Suami kamu mana?….â€? tanyanya
“Dia masih ngantor…biasanya ke sini setalah pulang kantor…yah, sampai sini maghriblah…� kataku.
“Bokap ada di lantai berapa?…aku masih boleh besuk kan?…….â€? dia tetap perhatian seperti dulu.
“Di lantai enam, bagian urologi…..Utari di lantai berapa?..� aku basa basi
“Dia lantai 7, gedung B…..�

Beberapa saat kami memang terdiam. Walau sedikit terbesit kenangan-kenangan kami dahulu, namun aku sadar keadaanku saat ini. Aku bukan lagi perempuan yang bebas seperti masih melajang. Aku tetap akan menceritakan hal ini pada Haryo, walau sebenarnya haryo tidak tahu apa yang pernah terjadi diantara aku dan Yongki di masa lalu. AKu telah menguburnya dalam-dalam ketika memutuskan untuk menikah, Dan sebaiknya kini tetap begitu.

Setelah Yongki menyempatkan diri untuk membesuk papau, beberapa saat kemudian Haryo datang. Kali ini ia datang dengan membawakan buah-buahan untuk papa dan makan malam untuk aku, serta beberapa makanan cemilan lainnya. Ini suatu kemajuan yang baik.

Kami bicara sebentar. Dan secara mengejutnya ia menyerahkan sesuatu,
“Far…ini ada alamat…temenku ada yang butuh sekretaris di perusahaannya…walau bukan bidang kamu…tapi aku yakin kamu bisa…..lagian kamu kan pernah jadi sekretaris kan?….â€? katanya tanpa ekspresi.
Aku hanya melongo tidak percaya. Apa benar dia melakukan ini?….kataku dalam hati. Tapi aku menyambutnya dengan semangat.
“Bener neh?…kapan aku bisa kasih CVku Mas?…tanyaku sambil tersenyum.
“Tadi temanku bilang..kalau Hari Selasa kamu bisa, kamu ke kantornya aja, lalu ketemu sama Pak Doni, bagian HRD….mudah-mudahan berhasil……� ujarnya sambil sedikit tersenyum.

Akupun membalas senyumannya. “Makasih ya…aku InsyaAllah akan ke sana….doain yah….�
Haryo mengangguk.

Pertemuanku dengan Yongki memang sedikit banyak menganggu pikiranku. Aku teringat kembali masa-masa itu. Kadang aku tersenyum sendiri..aku tahu ini tidak baik, dan aku tahu ini tidak boleh dibiarkan.

Suatu ketika aku dan Haryo sedang berada di rumah.
Kegiatan kami saat bersantai tidak lain hanya menonton TV. Aku tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan saat itu. Pikiranku terbang ke masa-masa empat tahun yang lalu bersama Yongki. Mataku memang memandang layar TV, tapi otakku tidak di sana. Lalu samar-samar kudengar Haryo memanggilku….spontan aku menjawab,
“Apa Ki?…..â€? lalu aku terdiam terkejut
Haryo sepertinya juga terkejut. Dia memandangku agak lama, tetapi setelah itu dia diam.

Jujur saja aku merasa menadi penghianat saat itu. Aku benar-benar sadar tidak seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Dan seharusnya aku meminta maaf dan menjelaskan kesalahpahaman apa yang terjadi. Tapi…aku tidak melakukan apa-apa. Aku bertindak seolah tidak terjadi apa-apa dan menganggap ini semua tidak pernah terjadi.

Lalu kami tertidur, dan kali ini aku diam saja.

Posted by 0 Responses
     

Leave a Reply to this Post

Jan
20
2006
 
 
Lisya Weblog Search form
Recent Comments
  • Nurhablisyah: Materi slide ada, hanya untuk melindungi kepentingan saya sebagai penyusun materi, maka saya...
  • Ringgo: Apakah ada materi dalam bentuk slide bu? Murid lebih menyukai pelajaran dengan slide sepertinya. Terima...
  • Senter Police: Oke makasih bu Dosen :D
  • Pusat Variasi Motor: saya senang atas artikel anda ini sangat membantu saya akan kembali untuk lain waktu agar dapat...
  • Variasi Motor: makasih ya mbk