Adikku I Love You | Lisya Weblog

You are here:
Home » Cerpen » Adikku I Love You

Adikku I Love You

 

Adikku I Love You
Oleh Lisya (jatuh bangun jatuh cinta)

Ini mimpi bukan sih?…tapi ko ini seperti nyata, please anyone…kalo ada disampingku…cubit aku sekarang juga, aku hanya ingin memastikan ini mimpi atau bukan…please…Tuhan aku bahagia, terima kasih ya…tapi aku takut kalau-kalau ini hanya lamunanku saja.(Maret 2000).

Hah!!!
Akhirnya aku jatuh cinta juga. Bagi kamu yang belum pernah merasakan jatuh cinta, akan aku terangkan sedikit yah. Gejala yang diderita oleh pasien yang sedang dilanda cinta bermacam-macm, namun umumnya mereka memiliki kesamaan, yaitu kecemasan yang tidak beralasan. Kadang di bus mereka akan tersenyum sendiri, tiba-tiba memberikan pandangan yang aneh. Bahkan menjadi baik seketika kepada teman-teman dekat dengan mentraktir atau memberikan hadiah yang mahal. Beruntung sekali jika kamu berada di dekat orang yang sedang jatuh cinta.

Jatuh cinta dan naksir seseorang memang beda-beda tipis. Tipsnya terletak pada kadar hati. Orang yang jatuh cinta kadar perasaannya 70% cinta – 30% jaga-jaga kalau putus, bahkan ada yang cintanya 100%. Kalau naksir, justru sebaliknya. 30% cinta – 70% jaga-jaga jkalau ada “barangâ€? yang lebih baru.

Siapa sih yang tidak suka cowok ganteng, well….bohong kalau kamu bilang otak lebih penting dari tampang. Tentu kamu akan sependapat otak, tampang, perilaku merupakan satu kesatuan yang utuh.jadi kalau bisa pria tampan, cerdas, perilaku sopan dan romantis sudah cukup sempurna.

Masalahnya, hari gini mau dimana cari pria kaya gitu?….ada juga seribu satu kali, malah tidak jarang kaum wanita tidak kebagian jatah karena jumlah kaum Adam yang semakin berkurang. Well, sebenarnya apa yang sedang aku bicarakan yah?…Katakan saja, aku yang selama ini memiliki standar tinggi dalam hal cowok, kini mulai mendapatkan titik terang.

Dia memiliki semua kriteria itu. Dan lucunya, aku tidak perlu repot-repot mengerjarnya. Karena justru dia sendiri yang memohon-mohon kepadaku. Wah beruntung sekali aku ini…maaf kalau ini terjadi padaku…tapi kalian akan mengetahui bagaimana akhir kisah cintaku yang seperti dongeng ini.

Awal perkenalan kami lucu sekali.
Pria itu kos tepat di depan kos-kosanku. Aku bukan gadis kutu buku, tapi berada di rumah kos sambil menonton gosip, buatku sama sekali tidak bermanfaat (maaf ya, aku tidak bermaksud menyinggung). Akhirnya aku lebih banyak menghabiskan waktuku di kampus, ikut organisasi debat, les Jepang, sampai magang menjadi reporter suatu koran ternama.

Tanpa kusadari, akulah satu-satunya gadis di lingkungan itu yang tidak kenal dengan para penghuni lain. Teruatama penghuni manis yang sering bertengger di atas balkon sambil siul-siul. Oh Tuhan, apa yang terjadi?…jangan sampai aku melewatkan masa remaja ini dengan kegiatan kampus yang membosankan. Aku harus membangun kembali sisi sosialku yang ceria. Lalu perlahan, aku mulai lagi megunjungi kamar teman-temanku, sambil tentunya memberika mereka oleh-oleh (biasanya anak kos-kosan paling bahagia bila diberi makanan, jenis makanan bisa apa saja, mulai buah sampai rendang yang sedikit berjamur…mereka akan habis melahapnya…)

Malam hariku kini aku luangkan sedikit untuk bersenda gurau bersama teman lainnya. Dan kebetulan jadwal kami malam ini adalah chatting bareng. Melda temanku yang centil sudah membooking salah satu rental warnet. Aku sih sudah siap. Jadi tinggal menunggu saja. Tanpa aku sadari, Melda tidak hanya mengajak kami tapi anak-anak dari rumah sebelah, yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Aku cukup terperanjat (atau grogi yah…aku hampir tidak ingat). Mau tidak mau aku kenalan dengan mereka. Yap!!! Harus aku akui mereka kelihatan manis, tampan, dan lucu.

Sayangnya warnet yang telah kami booking sudah diisi oleh anak-anak dari sastra Jerman, yang badannya bongsor-bongsor, dan usianya lebih tua dari kami.Bang Joni penjaga warnet merasa sangat bersalah, ini di luar kekuasaannya. Anak sastra Jerman tu adalah teman-teman dari si Alex-Sang pemilik warnet (Tidak sopan sekali…mengecewakan pelanggan setia…awas kau Alex!!!!)

Acara chatting malam itu gagal total. Tapi………walau dalam keadaan kecewa, kami masih bisa tertawa, akrena kami bersama para tetangga yang ramah dan tampan. Seorang diantara tetangga kosanku itu bernama Yongki. Dia itu yang terlihat paling pendiam.Yah..agak mirip dengan aku. Lalu kadang-kadang mata kami bertemu, aku menjadi sangat malu dan entah kenapa jantungku berdegup kencang sekali. Lalu aku akan memalingkan wajahku, dan akhirnya kejadian serupa terjadi berkali kali. Kami hanya saling melempar senyum (Ada apa ini…akus eperti gadis desa saja…..).

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku sudah amat mengantuk, dan kuputuskan untuk pamitan menuju kamar. Baru lima langkah aku berjalan, Yongki berkata pelan. “Kok..buru-buru…enakan juga ngobrol….� Aku langsung menoleh dan melemparkan senyum manisku. “Kapan-kapan ya….� Lalu membalikkan badanku dan berjalan lagi.
“Met bobo ya….jangan lupa mimpiin aku…..�ujarnya sambil tersenyum dengan tatapan yang tajam. Yah…pasti…dasar penggoda!!! Dia sama sekali meruntuhkan citranya di mataku.

Esok hari kudengar anak-anak mulai berbicara tentang tetangga sebelah. Bahkan beberapa teman kini mulai terlihat sangat akrab. Aku tidak mau tahu, tidak ada urusannya. Lagi pula, aku barutahu bahwa mereka adalah adik kelasku. Kami terpaut dua tahun. Yang benar saja, bahkan adik kandungku sendiri lebih tua dari mereka.
“Far…lo dapet salam dari Yongki…katanya kapan-kapan boleh gak dia main ke kosan lo?…â€? ujar Melda.
“BIlangin aja sama tu anak, kalo mau main, main aja…pake salam-salam segala..�
“Lu judes amat….dia kan manis far…udah gitu cool banget lagi…..�
“Iya…dan dia lebih muda dua tahun..please deh…..�
“Emang kenapa?…lo engga tau apa Helda kan udah jadian sama Toni, dan Astrid juga jadian sama Ary…engga ada masalah kan..?…â€?
“Buat gue sih masalah….� Aku memang tidak terlalu interest dengan daun muda. Tapi harus aku akui dia itu memang cool banget. Mata nya itu loh yang gak nahan, kalo mandang orang kayaknya langsung ke jantung…Akh!!!!!

Suatu ketika suasanan di kosanku lowong sekali, aku baru pulang kampus. Karena balkon kami berhadapan, jadi aku bisa melihat siapa yang berjalan dari arah berlawanan. My God…it’s Yongki, please!!!! Aku merasakan matanya sudah mengarah padaku, jangan samapai aku melakukan hal bodoh sebelum sampai di pintu kamar. Tepat sekali, kami berpapasan.
“Hai….sendirian…?…â€? ujarnya rama dan tetap dengan gaya coolnya
aku hanya mengangguk sambil senyum maksa.
“Yang lain pada kemana?..emang engga bareng kamu?…â€?
“Engga….mereka pada ke mall….temen-temen kamu pada kemana?…â€?
“Oh…gak tau…ada yang ke warnet…ada juga yang lagi pacaran…�
“Ok…aku masuk dulu yah….�pamitku
“â€?Iya….eng…tapi nanti aku boleh main kan?….â€?
Aku hanya menatapnya aneh, “Kata Melda gak usah pake salam-salaman langsung aja kalau mau main?…â€?
Bagus sekali, Melda menyampaikan pesanku bulat-bulat. “Ok….tapi aku sambil makan siang yah…�

Tidak sampai dua jam kemudian kami benar-benar terlibat pada pembicaraan seru. Dia anaknya lucu banget, humoris, dan sumpah aku tidak bisa melupakan senyumnya. Man!!!ada apa ini, apa aku harus menjilat ludahku sendiri…gak masalahlah…yang penting kan bukan ludah orang lain.

Singkatnya aku jadian sama Yongki. Awalnya aku sempat tidak mengaku dihadapan teman-teman (malu gila!!!!) tapi lama-kelamaan terbongkar juga. Habislah aku mendapat predikat si jual mahal, si muna-lah…dan lain-lain. Tapi mereka senang juga, karena kini aku bergabung dalam club penyayang adik..hahahaha.

Kencan pertama kami dimulai dengan menonton film India di ruang tamu kos-kosan…tapi bukan filmnya yang menarik, berada di samping cowok sekeren Yongki apa tidak membanggakan. Belum lagi ketika Yongki menjemputku di kampus, wah langsung mata teman-teman perempuanku menatap syirik (maaf ya, kini giliran aku….).

Aku juga heran kenapa Yongki bisa jatuh cinta padaku. Dan ternyata jawaban yang aku terima cukup melegakan, dia bilang aku ini orang yang tidak membosankan, selain itu aku juga manis. Alasan terakhir sebenarnya yang aku tunggu-tunggu.

Aku tidak terlalu sering berhubungan dengan laki-laki, maka ketika aku memutuskan menerimanya. Aku tidak mau main-main. Aku tawarkan sebuah komitmen yang cukup serius. “Ki….aku ini engga mau pacaran yang main-main loh….aku serius…daripada kamu nyesel…mumpung baru seminggu kamu pikirin aja lagi…�
“Eh, siapa yang main-main?…aku serius banget..aku juga males pacaran model anak SMU gitu…â€? ujar Yongki meyakinkan
“Kalo gitu, kamu ingin hubungan ini berlangsung sampai kapan?….â€?
“Sampai seterusnya lah…kalau perlu..sampai…� Yongki tidak meneruskan.
Aku sudah tahu maksdunya, dan rasanya tidak perlu meminta penjelasan lebih lanjut. Aku benar-benar berada di awang-awang…..He’s the one!!!

Hubunganku dengan adik kandungku yang bernama Pras cukup baik. Aku juga cerita padanya bahwa kini aku sudah memiliki kekasih yang tampan, asik, pintar, dan lucu…tapi usianya lebih muda. Pras hanya tertawa kecil, dia bilang semua terserah padaku, apa yang membuat aku bahagia, itu juga akan membuatnya bahagia. Yes, aku merasa saat ini banyak pihak yang mendukungku, kecuali mama dan papa.

Enam bulan bersama Yongki memang sangat menyenangkan, Yongki romantis sekali. Selalu bersedia menemaniku kemana saja, tidak malu-malu menggandeng tanganku, atau sekedar mengunjungiku Just To Say…I Miss You Dear…..

Tapi, justru ketika hubungan kami sedang hangay-hangaynya, aku terkena syndrome possesive.Padahal aku tahu tidak enak sekali punya pacar yang suka mengekang. Tapi aku juga tidak mengerti kenapa aku jadi begini. Aku engga mau Yongki nge-band lagi, aku engga mau cewek-cewek itu akan memanggil-manggil namanya, lalu tukeran telpon, dan berakhir dengan kekecewaan di pihakku. Aku ingin dia rajin menelponku, mengatakan I Love You setelahnya, dan bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan.

Sampai di situ kami tidak ada masalah, hubungan tetap berjalan baik. Lalu, tibalah saatnya aku harus maju ke babak skripsi. Aku tahu ini adalah hal yang indah sekaligus berat. Artinya jika aku lulus, aku harus meninggalkannya pulang ke kota kelahiranku, bekerja, lalu memikirkan menikah. Sedangkan dia?…rasanya tahap itu masih jauh sekali.

Waktu yang kutakutkan akhirnya datang juga. Aku harus meninggalkan Kota Paris Van Java. Kembali ke rumah orang tuaku. Aku bertekad akan melanjutkan pendidikan.

Di saat inilah hubungan kami mulai merenggang. Aku jarang mengunjunginya. Apalagi dia. Semakin lama telponnya semakin jarang. Dan jika kami berbicara di telpon, ujung-ujungnya bertengkar. Aku merasa dia kini sudah tidak perhatian lagi,bahkan untuk mengetahui kabarku saja dia tidak berusaha, tidak ada email, apalagi sms.Semuanya jadi dingin.

Suatu ketika aku pernah mengunjunginya. Kami jalan bersama, secara kebetulan kami bertemu dengan seorang teman wanita dari daerahnya. Dia sama sekali tidak mengenalkan aku pada temannya. Aku menanyakan hal ini pada Yongki, menurutnya dia baru akan mengenalkanku pada teman-teman yang dianggapnya dekat. Sekilas akutidak ambil pusing, namun aku akhirnya menyadari bahwa sudah berkali-kali ini terjadi padaku dan aku baru menanyakannya. Sudah dapat dipastikan kami ribut lagi.

Pada saat yang bersamaan di Jakarta, aku mulai kehidupanku dengan pemikiran yang baru, bertemu dengan orang-orang yang baru. Hubunganku dengan orang tua juga semakin baik. Di saat ini aku mulai bertekad untuk lebih dekat dengan Rabb-ku.Mama banyak membantu. Aku juga masih terus berharap hubunganku dengan Yongki tetap berjalan.

Waktu terus berganti, tidak terasa sudah hampir empat tahun aku menjalin kasih dengannya. Dua tahun kami lalui dengan berhubungan jarak jauh. Kini aku sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan. AKu bertemu banyak pria tampan. Walau aku tahu Yongki memang belum bisa ditandingi. Bersama Yongki aku seperti tidak punya beban. Bisa tertawa sekeras-keras yang aku mau, atau makan tanpa harus ketakutan gemuk. Di lain pihak aku juga menyadari posisiku saat ini. Berkali-kali aku meminta kejelasan darinya. Yongki tidak bisa menyanggupi untuk lulus tahun ini. Bahkan dia memintaku untuk tidak mengganggunya dulu dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Aku sangat menyadari, aku memang memaksakan hal ini padanya. Sesuatu yang belum saatnya ia dapatkan. Sementara aku sudah berjalan menyusuri jalan. Yongki baru saja tiba di halte untuk memberhentikan busnya.

Kini aku sudah pasrahkan hatiku. Aku akan berusaha melupakan Yongki. AKu bulatkan tekadku. Nanti malam aku harus menelponnya. Karena hubungan ini tidak baik untukku dan untuknya.

Dengan segenap keberanian aku menghubungi Yongki. Kukatakan bagaimana perasaanku saat ini, dan aapa yang kupikirkan demi hubungan kita di masa depan. Aku tidak mungkin mundur mendekati dirinya. Namun untuk Yongki bisa melangkah kearahku itu juga bukan hal yang mudah. Tanpa aku sadari Yongki terisak-isak di ujung telpon.

“Please jangan pernah ngomong putus Far!!!…tega banget sih kamu…kita udah sampe sini…Aku ini sedang usaha…aku mohon banget kamu bantuin doa. Aku butuh kamu Far…aku belum pernah pacaran sama cewek sampe segini lama dan bertahan…tolong kasih aku kesempatan dan motivasi…Aku engga mau kehilangan kamu….â€?Ini pertama kalinya kudengar suara Yongki yang berat menahan air mata. Aku benar-benar tidak sanggup. Pipiku akhirnya basah. Hatiku perih sekali, rasanya aku ingin teriak dan megatakan, mengapa kita tidak menikah saja?….mengapa harus seperti ini?…banyak orang melakukan hal ini mengapa kita tidak bisa?…Ya Allah jangan biarkan perasaanku hancur karena cinta yang tidak dapat kumiliki…kumohon…dia itulah laki-laki yang benar-benar kuinginkan, namun jalan ini begitu rumit. Doaku dalam hati.

Niatku untuk berpisah dengan Yongki pupus sudah. Aku mengerti betapa ia sangat menyayangiku, dan betapa dia juga merasakan hal yang sama ketika mata ini saling bertatapan.

Aku juga sering mengingatkan padanya. Kalau ada kesempatan sholat malam, minta petunjuk pada Allah agar jalan kami diringankan. Dan hal tersebut akhirnya terbukti.

Rabu, 14 Maret 2004 empat bulan berselang dari hari itu, iseng-iseng aku menelpon Yongki dari kantor. Saat itu Yongki sendiri yang mengangkat. “Hai…apa kabar?…kamu sekarang ada dimana hun?….â€? sapaku lembut.
“Eng..apa?…eng…kamu bisa nelpon bentar lagi gak?…â€?Yongki terdengar agak gugup. “Ok…kamu lagi kuliah ya?…nanti aku telpon lagi.â€?

Sejam kemudian akupun menelpon Yongki.. Belum aku mengucapkan salam, di belakang telpon kudengar seuara perempuan yang sedang melantunkan lagu cinta. Ya Tuhan, ini pasti bukan di kampus….ini di sebuah tempat yang tidak terlalu ramai. Suara perempuan itu jelas sekali dan tidak ada suara lain kecuali mereka.

Aku berusaha mempersiapkan segala kemungkinan. Ini adalah suatu tanda terhadap hubungan kami. Yongki kini tidak dapat mengelak. Sudah dua bulan ini dia menduakan aku. Perempuan itu adalah seorang gadis yang kini tinggal di kos-kosan dekatnya. Aku menarik nafas panjang. Dan mempermasalahkan mengapa Yongki menghianatiku, padahal sebelumnya aku sudah meminta agar hubungan ini berakhir. Yongki hanya terdiam, dia tidak bicara. Berulang kali ia mengucapkan maaf. Saat itu pula aku memaafkannya. AKu mendoakan agar hidupnya lebih baik, dan semuanya berjalan lancar. Lalu telponku tutup. Hatiku begitu hancur, dan air mata tidak bisa kusembunyikan lagi.Lalu ada sms masuk.

Sampai kapanpun aku akan mengingatmu, mengingat masa-masa indah kita. Jika aku bisa mengulang waktu kembali. Aku tidak akan melakukan kesalahan ini dan setia bersamamu. Maafin aku Farah. Aku sayang kamu.

Sampai kini aku masih percaya Yongki tidak akan melupakan aku. Sebuah email ucapan selamat ulang tahun masuk ke dalam emailku. AKu tahu dialah pengirimnya. Namun aku tidak akan mencoba membalasnya, karena kini sebuah undangan harus kusebarkan. Terima kasih atas waktu-waktu yang indah. Terima kasih sudah menemani aku di kala susah. Dan mengajari aku banyak hal untuk mengenal seorang pria.

Posted by 0 Responses
     

Leave a Reply to this Post

Jan
20
2006
 
 
Lisya Weblog Search form
Recent Comments
  • Nurhablisyah: Materi slide ada, hanya untuk melindungi kepentingan saya sebagai penyusun materi, maka saya...
  • Ringgo: Apakah ada materi dalam bentuk slide bu? Murid lebih menyukai pelajaran dengan slide sepertinya. Terima...
  • Senter Police: Oke makasih bu Dosen :D
  • Pusat Variasi Motor: saya senang atas artikel anda ini sangat membantu saya akan kembali untuk lain waktu agar dapat...
  • Variasi Motor: makasih ya mbk